BREAKINGNEWS.CO.ID - Inovasi pengenal wajah bukan hal baru dalam dunia teknologi. Penggunaannya pun makin meluas. Namun, inovasi tersebut ternyata masih memiliki beberapa masalah, salah satunya adalah belum bisa mengenali perbedaan jenis kelamin lelaki dan perempuan berkulit gelap. Microsoft melalui blog resminya, Selasa (26/6/2018), mengklaim telah meningkatkan kemampuan teknologi pengenalan wajahnya secara signifikan sehingga bisa mengenali jenis kelamin (gender) pada seluruh warna kulit.

Perbaikan kemampuan itu berangkat dari penelitian Joy Buolamwini, peneliti asal Sekolah Tinggi Teknologi Massachusetts (MIT) di Boston, AS, pada awal 2017. Ia mengungkapkan bahwa teknologi pengenalan wajah yang paling akurat adalah untuk lelaki kulit putih, tapi sebaliknya bagi orang berkulit gelap, terutama perempuan.

Ia menemukan bahwa teknologi Microsoft memiliki tingkat kesalahan sebanyak 20,8 persen ketika mengidentifikasi perempuan berkulit lebih gelap. Sebaliknya, ia dan tim malah menemukan bahwa teknologi yang sama dapat mengidentifikasi wajah lelaki kulit putih dengan tingkat kesalahan nol persen, demikian dikutip dari Gizmodo, Selasa (26/6/2018). Buolamwini sudah menemukan fakta ini sejak masih menempuh pendidikan S1 di Georgia Institute of Technology, AS. Ia menemukan fakta bahwa teknologi tersebut punya bias pengenalan wajah secara langsung.

Teknologi itu bekerja dengan baik pada teman-temannya yang berkulit putih, tetapi sama sekali asing pada wajahnya yang kebetulan berkulit hitam. Saat itu, Buolamwini berpikir ada cacat teknologi yang mesti diperbaiki. Akan tetapi beberapa tahun kemudian, setelah bergabung dengan MIT Media Lab, dia menemukan hal serupa. Namun, pada saat Buolamwini mengenakan topeng putih, perangkat lunak justru mampu mengenali wajahnya secara langsung.

Maklum, pada saat itu, perkembangan perangkat lunak pengenalan wajah semakin maju dan banyak diterapkan pada pelbagai perangkat komersial. "Oke, ini serius. Saatnya melakukan sesuatu," ujar Buolamwini dikutip New York Times.

Selanjutnya, Buolamwini mempelajari kinerja dari tiga sistem pengenalan wajah milik Microsoft, IBM, dan Megvii yang kebetulan memang paling bagus. Ia mengklasifikasikan seberapa baik tiga sistem itu dapat menebak jenis kelamin orang-orang dengan nada kulit yang berbeda.