BREAKINGNEWS.CO.ID - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menilai pelaksanaan APBN yang menjadi instrumen counter cyclical pada 2019 mampu menjaga momentum positif pertumbuhan ekonomi dan stabilitas makro-ekonomi.

"Dukungan nyata APBN 2019 ini tercermin pada bauran kebijakan fiskal dalam mendukung pencapaian prioritas pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat," kata Sri Mulyani  di Jakarta, Selasa (7/1/2020).

Sri Mulyani mengatakan pengelolaan APBN sepanjang 2019 telah mendapatkan tantangan dari global yang masih diliputi ketidakpastian.

Kondisi global itu, tambah dia, dapat membuat kegiatan ekonomi domestik terganggu, sehingga agar program prioritas yang menjadi arahan Presiden Joko Widodo tetap berjalan, maka pengelolaan APBN menjadi penting.

"Kalau lingkungan berubah, maka tugas kita tetap mengelola perubahan dengan tetap fokus. Kita kalibrasi dari sisi penerimaan, komposisi apa yang bergerak, agar instrumen APBN mendukung prioritas Presiden," ujar Sri Mulyani seperti dikutip laman Antaranews.com.

Dengan kondisi itu, ia memastikan, kebijakan perpajakan meski menghadapi tekanan perlambatan, tetap memberikan dukungan insentif pajak kepada dunia usaha selama tahun 2019.

APBN juga mendukung belanja negara yang produktif dan optimal dalam memperkuat perlindungan sosial, menunjang pembangunan infrastruktur serta memperbaiki kesejahteraan dan menciptakan keadilan ekonomi.

"Pembiayaan anggaran yang efisien turut mendukung pembangunan infrastruktur dan pendanaan sektor pendidikan," tambah Sri Mulyani.

Dalam kesempatan itu ia mengatakan fundamental perekonomian yang baik selama 2019 dan tren perbaikan yang berlanjut dapat menjadi modal kuat dalam menghadapi tantangan di 2020.

"Upaya ini dilakukan dengan terus melakukan reformasi di berbagai aspek untuk memperkuat ketahanan dan daya saing ekonomi nasional," ujar Sri Mulyani.

Sri Mulyani menambahkan pemerintah juga mewaspadai ketidakpastian yang berlanjut di 2020, terutama dinamika perang dagang dan tensi geopolitik yang meningkat.

Sebelumnya, Kementerian Keuangan mencatat adanya kinerja APBN yang lebih terarah dan terkendali dengan kinerja belanja tumbuh positif pada akhir 2019.

Realisasi sementara defisit anggaran dalam APBN hingga Desember 2019 telah mencapai 2,2 persen dari PDB atau sekitar Rp353 triliun.