BREAKINGNEWS.CO.ID - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan membatalkan rencana kenaikan Bahan Bakar Minya (BBM) jenis premium sore ini, Rabu (10/10/2018). Padahal setu jam sebelumnya, Ignasius Jonan mengumumkan di Nusa Dua, Bali bahwa Premium naik menjadi Rp7 ribu.

"Sesuai arahan bapak Presiden rencana kenaikan harga Premium di Jamali menjadi Rp 7.000 dan di luar Jamali menjadi Rp 6.900, secepatnya pukul 18.00 hari ini, agar ditunda," kata Jonan.

Rencana kenaikan Premium akan dibahas ulang sambil menunggu kesiapan PT Pertamina (Persero). "Dibahas ulang sambil menunggu kesiapan PT Pertamina. Jadi Pertamina butuh waktu untuk perhitungan. Jadi untuk sementara ditunda sampai Pertamina siap," tutur Jonan.

Sebelumnya, Jonan mengatakan kenaikan itu akan dilakukan sore hari, tergantung kesiapan PT Pertamina (Persero) untuk menyosialisasikan kebijakan tersebut. Harga baru Premium untuk wilayah Jawa, Madura dan Bali (Jamali) nantinya dipatok sebesar Rp 7.000 per liter. Di luar Jamali harganya akan menjadi Rp 6.900 per liter. Saat ini harganya Rp 6.450 per liter. Harga tersebut tidak mengalami perubahan harga April 2016.

Kenaikan harga Premium ini juga dipengaruhi harga minyak dunia. Harga minyak jenis Brent sudah mencapai level US$ 80 per barel. Bahkan, harga minyak Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) sudah menyentuh level tertinggi sejak awal tahun yakni US$ 74,88 per barel. Padahal, asumsi ICP dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018 hanya US$ 48 per barel.

Di sisi lain, Pertamina sudah menaikkan harga Pertamax, Pertamax Turbo, Dexlite, Pertamina Dex, dan Biosolar Non PSO. Harga Pertamax Rp 10.400 per liter dari sebelumnya Rp 9.500 per liter. Lalu, Pertamax Turbo naik Rp 1.550 per liter menjadi Rp 12.250 per liter.

Pertamina Dex naik menjadi Rp 11.850 per liter dari sebelumnya Rp 10.500 per liter, Dexlite naik dari Rp 9.000 per liter jadi Rp 10.500 per liter. Adapun harga Biosolar Non PSO kini Rp 9.800 per liter, awalnya Rp 7.700 per liter.