BREAKINGNEWS.CO.ID – Perusahaan milik negara yang banyak menggunakan mata uang asing telah mempersiapkan diri menghadapi gejolak harga dan nilai tukar rupiah. Langkah lindung nilai atau hedging tersebut diambil oleh Kementerian BUMN, menyusul  kerap melemahnya nilai tukar rupiah terhadap mata uang dolar Amerika Serikat. "Pada dasarnya kita ada instrumen `hedging` yang bisa digunakan antar BUMN melalui fasilitas swap, untuk membantu pengelolaan risiko keuangan," kata Menteri BUMN Rini Soemarno, di  Banyuwangi, Jawa Timur, Minggu (1/7/2018).

Menurut Rini, seperti dikutip dari laman Antaranews.com, Senin (2/7/2018), dalam melakukan lindung nilai harus dilihat dari sisi BUMN yang melakukan ekspor maupun impor karena memang membutuhkan dan menerima devisa dalam bentuk valuta asing.

Adapun produk-produk transaksi lindung nilai meliputi forward, swap, option, cross currency swap dan interest rate swap. Ia menjelaskan, salah satu BUMN yang menggunakan valas dalam jumlah besar setiap hari yaitu PT Pertamina (Persero) yang mencapai sekitar 150 juta dolar AS atau setara dengan sekitar Rp2,5 triliun.

Selanjutnya, BUMN yang menerima pendapatan dalam valuta asing, antara lain PT Aneka Tambang Tbk (Persero), PT Bukit Asam Tbk (Persero), PT Timah Tbk (Persero), PT PGN Tbk (Persero), PT Pupuk Indonesia Tbk (Persero), PT Pelindo II (Persero) dan Garuda Indonesia. "Fasilitas hedging bagi BUMN yang membutukan valas untuk keperluan impor, tetapi di sisi lain juga banyak BUMN yang mendapatkan dolar dari hasil ekspor. Ini bisa dimanfaatkan untuk mengcover kebutuhan valas dalam negeri," ujarnya.

Meski begitu, Rini tidak menyebutkan berapa lama kemampuan pemerintah dalam menyediakan fasilitas hedging tersebut yang dimaksud.

Ia hanya menjelaskan bahwa, skenario lindung nilai sudah pernah dijalankan BUMN pada tahun 2016, ketika nilai tukar rupiah terhadap dolar AS merosot tajam hingga ke level Rp14.500. "Ini kan kita lihat berapa lama penguatan dolar AS. Saat ini rupiah melemah, tapi satu saat juga pasti menguat," tegasnya.

Ia menambahkan, bahwa yang perlu dijaga saat ini adalah kemampuan BUMN secara kelompok bisnis untuk saling mendukung, sehingga diharapkan kinerja keuangan bisa tetap sehat.

Dalam beberapa bulan terakhir nilai tukar rupiah cenderung melemah, bahkan sempat menyentuh level terendah sejak pertengahan Desember 2015.