BREAKINGNEWS.CO.ID - Menteri Sosial Idrus Marham menyatakan jika dirinya tak tertarik untuk maju sebagai calon legislatif (caleg) di Pileg 2019 mendatang. Alasannya, dirinya hanya fokus dengan posisinya saat ini yakni menteri yang menangani kemasalahan sosial di Indonesia. "Saya ingin fokus di kementerian ini," katanya saat ditemui wartawan di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Jum'at (13/7/2018).

Dirinya pun mengatakan pada 2009 lalu, dirinya pernah meminta untuk mundur dari DPR, namun dirinya diminta untuk menjadi pemimpin pansus Century. "Sehingga saya baru mundur itu pada tahun 2011 setelah menjadi ketua pansus itu. Pada 2014, karena saya sudah menjadi Sekjen di Partai Golkar, maka saya nggak nyaleg. Nah, 2019 ke depan, hari ini saya menteri, maka saya ingin fokus dulu pada tugas saya sebagai menteri," ujarnya.

Kendati demikian, memang tidak ada larangan bagi seorang menteri untuk maju sebagai caleg. Ha itu juga tertuang dalam Undang-Undang nomor 7 tahun 2017 tentang menteri boleh atau tidak boleh untuk maju sebagai caleg. Khususnya diatur di dalam Pasal 240. "Di situ disampaikan persyaratan. Kalau nggak salah ada 16 persyaratan ya. Di situ tidak ada yang mengatakan jika menteri tidak boleh nyaleg," tuturnya.

Yang terpenting baginya, pada 2009 dirinya tidak nyaleg, 2011 dirinya mundur, 2014 ia sudah menjadi sekjen. Pada 2019 kali ini dirinya juga mengatakan tak ingin maju dalam ajang tersebut. "Nah, pesan saya bagi teman-teman di kabinet, jika nyaleg itu tidak haram, boleh dan tidak ada larangan, silahkan saja," ucapnya. Asalkan tidak melanggar larangan-larangan yang sudah ditentukan. Termasuk larangan penggunaan fasilitas negara, penggunaan aparatur sipil negara (ASN). Termasuk larangan terhadap langkah-langkah atau program-program yang bisa mempengaruhi orang lain. "Jadi saya kira semua ini tidak ada masalah," imbuhnya.

Namun, dirinya enggan menjelaskan secara rinci terkait alasannya untuk tidak ingin mencalonkan diri lagi sebagai calon legislatif. Dirinya pun kembali menegaskan jika pada 2014 saja dirinya mengaku tidak berbuat apa-apa. Hanya menjabat sebagai sekjen di Golkar. "Yang penting sebenarnya kan komunikasi. Komunikasi - gagasan, komunikasi - pikiran dengan seluruh elite-elite parpol yang ada itu apapun posisi kita bisa. Dan saya dari awal menginginkan adanya pendekatan-pendekatan fungsional antar sesama elite partai," tegasnya. "Kita harus menghargai posisi seseorang seberapa jauh menyampaikan ide dan gagasan yang betul-betul brilian dan bermanfaat bagi rakyat," sambungnya.