BREAKINGNEWS.CO.ID – Menteri Luar Negeri Indonesia, Retno Lestari Priansari Marsudi meminta kepada pemerintah Malaysia untuk memberikan jaminan keamanan bagi para tenaga kerja Indonesia setor perikanan yang bekerja di kawasan perairan Negeri Jiran tersebut, menyusul kabar tentang penculikan dua nelayan WNI di perairan Sabah, Malaysia pada 11 September 2018 lalu.

Hal tersebut diutarakan oleh Menlu Retno dalam sambungan komunikasi dengan Menteri Luar Negeri Malaysia, Saifullah Abdullah pada hari yang sama ketika kabar penculikan dua nelayan WNI mencuat. "Pada 11 September, Menteri Luar Negeri RI sudah melakukan komunikasi dengan Menlu Malaysia guna menyampaikan keprihatinan mendalam terhadap kejadian tersebut dan meminta jaminan keamanan bagi WNI yang bekerja di wilayah Sabah, khususnya yang bekerja sebagai nelayan," demikian pernyataan tertulis dari Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia Kemlu RI, Lalu Muhammad Iqbal, Kamis (13/9/2018).

Menlu Retno juga telah "memerintahkan Konsul RI di Tawau berkunjung ke Semporna untuk bertemu otoritas keamanan setempat, pemilik kapal dan saksi pelapor untuk memverifikasi informasi tersebut serta meminta keterangan tambahan." "Pemerintah akan melakukan upaya-upaya perlindungan bagi kedua WNI yang menjadi korban kasus penculikan terbaru itu, sebagaimana yang dilakukan terhadap 11 nelayan WNI yang diculik di perairan Sabah sebelumnya," lanjut keterangan tertulis itu.

Sebelumnya, dua nelayan Indonesia dilaporkan diduga diculik di perairan Semporna, sebuah kota di Sabah, Malaysia, dalam sebuah jam malam, sekitar pukul 01.00 dini hari waktu setempat pada Selasa (11/9), menurut laporan outlet surat kabar Singapura. Kasus itu telah dikonfirmasi oleh otoritas Malaysia, KBRI Kuala Lumpur, dan KRI Tawau. Pihak KBRI Kuala Lumpur memastikan kalau dua nelayan yang diculik berstatus sebagai WNI, berinisial SS serta UY, berasal dari Provinsi Sulawesi Barat.

Menurut sumber, empat awak kapal nelayan baru saja berlabuh di dermaga Pulau Gaya di Semporna. Telah diketahui bahwa sekitar jam 01.00 dini hari, salah satu anggota kru mendengar suara mesin perahu pompa yang mendekat dan pasokan listrik kapal mereka tiba-tiba terputus. Dua dari awak kapal, yang bersembunyi di dalam kompartemen kapal penangkap ikan, mendengar orang-orang yang berbicara dalam logat Sulu (kemungkinan besar orang Filipina) dan melalui lubang, melihat dua orang bersenjata dari kelompok itu.

Sekitar satu jam kemudian, dua nelayan keluar dari persembunyian tetapi menemukan dua teman mereka hilang, beserta sistem komunikasi radio kapal, demikian seperti dilansir The Strait Times, Selasa (11/9). Orang-orang yang selamat kemudian mengajukan laporan di kantor polisi Semporna, Sabah Malaysia. Pemerintah Indonesia, melalui KBRI Kuala Lumpur dan KRI Tawau di Sabah, Malaysia, menjelaskan pada 13 September 2018 bahwa mereka telah berkoordinasi dengan otoritas setempat "perihal operasi penyelematan" kedua nelayan WNI tersebut, kata Fungsi Pensosbud KBRI Malaysia, Agung Sumirat dalam keterangan tertulis kepada Breakingnews.co.id, Kamis (13/9).