BREAKINGNEWS.CO.ID – Menteri Luar Negeri Inggris, Jeremy Hunt, setelah dirinya mengunjungi negara bagian Rakhine, pusat dari memburuknya kekerasan terhadap etnis monirotas Rohingya di Myanmar sejak Agustus lalu, menyerukan keadilan atas krisis kemanusiaan yang sudah mengorbankan warga Rohingya di Myanmar.

Hunt menuturkan pemerintah Myanmar harus menyadari kalau "komunitas internasional tidak akan membiarkan" kejahatan serta kekerasan terhadap Rohingya terus terjadi. "Apabila kami tidak melihat proses (hukum) itu terjadi, kami akan menggunakan segala cara yang kami punya untuk memastikan keadilan. Dunia terus menyaksikan ini," kata Hunt di Naypyidaw, Jumat (20/9/2018).

Pernyataan itu diutarakan Hunt setelah bertemu dengan pemimpin de facto Myanmar, Penasihat Negara Aung San Suu Kyi. Hunt menyebut pertemuan keduanya sangat "jujur" dan "hidup." Lawatan Hunt ke Rakhine berlangsung tidak lama setelah tim pencari fakta Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) merilis laporan yang menyimpulkan kalau militer Myanmar bisa dibuktikan punya niat melakukan genosida terhadap Rohingya.

Laporan itu menjelaskan secara detail dugaan pembunuhan massal di luar hukum, kekerasan seksual, pengusiran, dan pembakaran desa-desa di Rakhine. Laporan panel di bawah Dewan HAM PBB itu juga menuntut panglima militer Myanmar dan lima jenderalnya untuk mundur dan segera diadili. Tim tersebut menuduh militer Myanmar terlibat genosida, kejahatan terhadap kemansuiaan, dan kejahatan perang.

Hunt meninjau Rakhine, termasuk pusat repatriasi pengungsi Rohingya di Taung Pyo Letwe, menggunakan helikopter selama tiga jam dengan pengawasan ketat pejabat. Hunt sempat berbicara dengan sejumlah wara lokal di tiga tempat yang ia kunjungi di Rakhine. Walaupun demikian, dia merasa sekelompok orang tersebut telah lebih dulu ditunjuk pejabat lokal untuk berbicara dengannya. Hunt juga menuturkan dia juga sempat mencoba bertanya pada penduduk lokal Desa Pan Taw Pyin, desa terakhir yang ia kunjungi di Rakhine, tentang pengalaman mereka selama krisis kemanusiaan memburuk.

Dalam pertemuannya dengan Suu Kyi, Hunt juga mengatakan dia mengungkapkan "keprihatinannya" terhadap pemenjaraan dua wartawan Reuters Wa Lone dan Kyaw Soe Oo pada awal bulan ini. Keduanya divonis tujuh tahun penjara karena dianggap melanggar Undang-Undang Rahasia Negara karena berusaha meliput Rohingya. Hunt menyebut Suu Kyi berniat meninjau kembali keputusan pengadilan terhadap dua wartawan tersebut. "Dia bilang dia akan memeriksanya," kata Hunt mengutip pernyataan Suu Kyi.