TOKYO – Kota Tokyo, Jepang di kenal sebagai satu diantara kota metropolitan tersibuk didunia. Sebagai minoritas, umat Muslim disana rasakan satu pengalaman menantang semestinya saat kerja seseorang Ninja pekerja keras.

“Menjalani dua th. di Tokyo, saya anjurkan Jepang sebagai satu diantara negara yang harus dikunjungi. Namun, baiknya memikirkan 2 x untuk orang Muslim untuk bertandang kesana sepanjang Ramadan, ” tutur seseorang mahasiswi master Ekonomi serta Teori Game Kareman Yassin (26) ditulis dari mvslim. com, Senin (29/5/2017).

Bila sampai kini kesan yang tampak Jepang sebagai destinasi wisata menarik dengan macam makanan unik, dari mulai sushi, semangka kotak, kereta supercepat Shinkansen plus keragaman budaya orang-orangnya dengan populasi kian lebih 13 juta. Tetapi, penganut Islam di Tokyo cuma sekira 0. 0007%.

Bayangan untuk nikmati spirit Ramadan di Tokyo, menurut Yassin, juga semakin pupus. Bila ditempat aslinya, Timur Tengah, Yassin temukan bermacam kudapan lezat, kurangi produktivitas kerja serta mungkin selama seharian di depan monitor tv, lupakan hal semacam itu di Tokyo.

“Di Tokyo, kehidupan jalan supercepat bila kamu miliki pekerjaan tetaplah atau seseorang mahasiswa. Umumnya kamu bangun jam 7 pagi, pergi ke stasiun kereta, kerja, makan, kerja, kerja, kerja, pulang ke tempat tinggal, tidur serta mengulangnya lagi. Selamat tinggal yang diimpikan mandi air hangat serta tidur pulas, ” tegas Yassin.

Nikmati saat berbuka puasa serta salat Maghrib di Tokyo dengan tenang, menurut dia, begitu tidak sering berlangsung. Melakukan situasi Ramadan dengan salat Tarawih juga begitu tidak sering berlangsung walau Tokyo mempunyai tiga masjid besar.

Di segi lain, sebagai golongan minoritas, Muslim di Tokyo dapat tampak menonjol dengan mengenalkan ritual berpuasa Ramadan pada warga Jepang non Muslim.