BREAKINGNEWS.CO.ID - Pelaku pengeboman gereja di Pulau Jolo, Mindanao pada akhir pekan lalu, diyakini Menteri Dalam Negeri Filipina, Eduardo Ano, dilakukan oleh pasangan suami istri asal Indonesia.

Pengeboman itu terjadi pada Minggu (27/1/2019) lalu, tepat saat misa pertama selesai dilaksanakan. Bom kedua lantas meledak sesaat setelah tentara merespons ledakan pertama. Kejadian di Mindanao yang dikenal sebagai basis militan Islam itu menewaskan sebanyak 22 orang serta melukai lebih dari 100 orang, termasuk warga sipil dan tentara. Kelompok militan ISIS sudah mengklaim bertanggung jawab atas pengeboman tersebut. 

"Mereka adalah orang Indonesia. Saya yakin mereka adalah orang Indonesia," kata Ano kepada CNN Filipina, disiarkan Reuters, Jumat (1/2). Keterangan baru dari Ano itu menambah rumit informasi yang datang setelah pengeboman. Sebelumnya banyak pernyataan datang dari pemerintahan, investigator yang diwawancarai pihak televisi, dan ditambah lagi keruwetan lokasi kejadian.

Pihak keamanan sudah mengatakan dua bom dikendalikan dari jauh, akan tetapi, pada Kamis (31/1) hal itu berubah setelah Presiden Filipina, Rodrigo Duterte mengatakan kemungkinan bom bunuh diri yang didukung Menteri Pertahanan Delfin Lorenzana. Lorenzana mengatakan pada Jumat (1/2), pemeriksaan tas yang dilakukan di pintu masuk gereja bakal mempersulit meletakkan bom di sana. Jadi alat yang dilekatkan ke tubuh lebih memungkinkan.

"Menurut para penyelidik forensik ... bagian tubuh ini bisa jadi milik dua orang, satu di dalam gereja dan satu di luar," jelas Lorenzana kepada wartawan. Ano mengatakan pasangan dari Indonesia itu mendapatkan bantuan dari organisasi militan yang terkenal karena faksi penculikan dan ekstremis. Ano juga menjelaskan perencana serangan kemungkinan berada di bawah instruksi yang berkaitan dengan ISIS.

Darurat militer telah diberlakukan di Mindanao sejak pejuang dalam dan luar negeri mengenakan pakaian hitam menyerbu kota Marawi pada 2017 lalu. Mereka bertahan selama lima bulan dari serangan udara dan pertempuran darat yang mengingatkan pada pemandangan di Suriah dan Irak. Aksi pengeboman ini terjadi setelah undang-undang memperluas otonomi di Mindanao yang mayoritas warganya Islam terbit pada 21 Januari. Pada Rabu dua orang tewas karena ledakan granat yang dilempar ke masjid dekat Zamboanga, wilayah mayoritas Kristen. Belum diketahui jelas siapa dalang aksi itu.