BREAKINGNEWS.CO.ID – Tokoh oposisi tengah-kiri dari Argentina, Alberto Fernández telah terpilih sebagai Presiden Argentina dalam pemungutan suara yang didominasi oleh masalah ekonomi. Fernández memperoleh lebih dari 45% suara yang dibutuhkan untuk menang. Ia mengalahkan calon petahana dari aliran konservatif Mauricio Macri.

Kerumunan pendukungnya berkumpul di markas pemilihan Fernández untuk merayakan hasilnya. Pemungutan suara itu diadakan di tengah krisis ekonomi yang menyebabkan sepertiga penduduk Argentina jatuh dalam kemiskinan.

Macri sendiri sudah tertinggal di belakang penantangnya dalam pooling sebelum pemilihan dilakukan. Akhirnya terbukti ia dikalahkan oleh pihak oposisi dalam pemilihan primer pada bulan Agustus 2019.

Dia pun mengakui kekalahan pada Minggu malam. Macri juga sudah mengucapkan selamat kepada saingan politiknya. Ia mengatakan telah mengundang Fernández ke istana presiden pada hari Senin untuk membahas transisi yang tertib.

Fernández kemudian mengatakan kepada para pendukungnya bahwa ia akan berkolaborasi dengan presiden yang ia gantikan itu "dengan segala cara yang kami bisa", seperti diberitakan oleh Reuters.

Dalam pemilihan ini, dengan lebih dari 90% surat suara yang sudah dihitung,  Fernández memiliki 47,79% suara. Ia unggul sekitar tujuh persen suara dibandingkan dengan Macri yang memperoleh 40,71%.

Pendukung Arlberto Fernandez rayakan kemenangan Presiden baru (foto: aljazeera.com)

Untuk menang di babak pertama, seorang kandidat membutuhkan setidaknya 45% suara, atau 40% dan unggul 10 poin atas kontestan tempat kedua. Pemungutan suara didominasi oleh kekhawatiran atas ekonomi. Dengan hampir satu dari tiga orang yang sekarang hidup dalam kemiskinan, para pemilih mendukung kandidat yang mereka pikir terbaik untuk memimpin negara keluar dari krisis.

Macri semula berjanji untuk mencapai "kemiskinan nol", tetapi hal-hal yang benar-benar memburuk selama pemerintahannya empat tahun terakhir. Para pendukungnya mengatakan dia mewarisi ekonomi yang hancur ketika dia berkuasa dan membutuhkan lebih banyak waktu untuk menyelesaikannya. Sementara Fernández telah berjanji untuk “bermain aman” secara finansial dalam kampanyenya.

Kontroversi Wakil Presiden 

Alberto Fernández sendiri akan memangku jabatan presiden pada 10 Desember 2019. Di markas kampanye Alberto Fernández, para pendukungnya mulai berkumpul dalam perayaan bahkan sebelum hasilnya keluar. Mereka mengibarkan bendera Argentina berwarna biru dan putih. Bahkan banyak pendukung juga mengenakan T-shirt dengan wajah presiden baru terpampang di atasnya.

Namun yang lebih dikenal semua orang adalah citra Cristina Fernández de Kirchner, wakil presiden dari Fernandez dan mantan pemimpin Argentina. Bagi banyak orang, dia adalah Eva Perón versi modern. Cristina disamakan dengan Eva Peron, seorang wanita yang telah mendukung orang miskin dengan program sosial.

Kehadirannya dalam pemilihan kali ini jelas membantu dan mendorong Alberto Fernández ke puncak. Bahkan banyak orang, ketika ditanya siapa yang mereka pilih, menjawab "Cristina" seolah-olah dia yang mencalonkan diri sebagai presiden daripada wakil presiden.

Namun di sisi lain dia adalah tokoh yang dianggap memecah-belah juga. Selain dituduh korup, Cristina juga dianggap tidak bertanggung jawab secara ekonomi.

Tantangannya sekarang adalah memuaskan mereka yang ingin kembali ke politik lama, sambil meyakinkan kritik mereka bahwa mereka akan memajukan negara.

Karir politisi, Fernández, telah menimbulkan kegemparan sejak ia pertama kali muncul dalam sorotan politik Argentina sekitar enam bulan lalu.

Mantan ahli strategi kampanye itu memulai upayanya untuk menjadi presiden pada bulan Mei. Hal ini dinilai mengejutkan karena mantan presiden Cristina Fernández de Kirchner secara luas dianggap sebagai kandidat koalisi oposisi tengah-kiri untuk jabatan puncak.

Tetapi Fernández benar-benar muncul pada Agustus lalu ketika ia mengalahkan Macri dengan hampir 15 poin persentase dalam pemilihan primer.  Kemenangan ini, menentang semua prediksi, menjadikannya sebagai favorit yang nyata.