JAKARTA - Tentang berapa lama hubungan seksual yang normal, tentu mesti dilihat dalam kaitan dengan pasangan. Prinsipnya hubungan seksual mesti dilakukan untuk kebutuhan bersama dengan pasangan suami isteri.

Jadi sulit ditetapkan berapa lama yang dimaksud normal serta berapa lama yang dimaksud tidak normal. Berapa lama hubungan seksual yang dianggap normal, sangat ditentukan oleh berapa lama hubungan seksual dilakukan supaya pasangan yang melakukan bisa merasa puas.

Tentang ukuran penis, atau berusaha untuk menambah ukuran penis, selain tidak ada gunanya, juga tidak mungkin menjadi kenyataan. Jangan terobsesi dengan ukuran, apalagi ternyata dalam batas normal. Bukan ukurannya, melainkan fungsinya yang penting bagi berlangsungnya hubungan seksual yang harmonis.

Ejakulasi dini bisa diatasi dengan baik dengan menggunakan cara ilmiah yang telah diakui secara internasional. Ada tiga cara untuk mengatasinya ejakulasi dini. Pertama, melakukan terapi seks. Kedua, menggunakan obat untuk mengontrol ejakulasi. Ketiga, dengan operasi syaraf.

Dengan terapi seks, kontrol terhadap ejakulasi dapat ditingkatkan sehingga tidak terjadi lagi ejakulasi dini. Tetapi tidak selalu mudah melakukan terapi seks. Paling sedikit ada tiga kendala yang dialami oleh banyak pria dengan ejakulasi dini yang ingin melakukan terapi seks.

Pertama, tiadanya komunikasi dengan pasangan sehingga pria cenderung menyembunyikan disfungsi seksualnya. Kedua, tiadanya kesediaan pihak wanita untuk membantu melakukan terapi. Ketiga, keengganan melakukan terapi karena memerlukan waktu dan ketekunan.

Beberapa obat yang berkhasiat dapat mengontrol ejakulasi telah digunakan untuk mengontrol ejakulasi dini, dengan hasil yang cukup memuaskan. Tetapi obat tersebut mempunyai efek samping walaupun tidak berat. Karena itu penggunaanya harus sesuai dengan petunjuk dokter dan di bawah pengawasan dokter.

Langkah operasi syaraf untuk menangani ejakulasi dini telah dilakukan di beberapa negara. Tetapi ternyata cara ini tidak banyak dilakukan.

Mengenai pengobatan dengan ramuan, seperti yang diiklankan di banyak media massa, saya tidak dapat berkomentar karena saya tidak tahu apa kandungannya. Apalagi kalau ramuan itu diedarkan begitu saja tanpa melalui penelitian secara ilmiah.