BREAKINGNEWS.CO.ID -   Relasi negara zionis Israel dengan negara-negara Arab yang menjadi tetangganya selama ini selalu dingin bahkan tak jarang berujung kontak senjata. Namun perkembangan terakhir justru menunjukkan tanda-tanda sebaliknya. Hal tu terlihat dari  kunjungan diplomatik selama  delapan jam yang dilakukan oleh Perdana Menteri Israel  Benyamin Netanyahu ke Oman bersama istrinya. Kunjungan pertama dan mengejutkan dari petinggi Israel dalam dua decade terakhir ke negara pun berlangsung hangat karena Netanyahu disambut langsung oleh Sultan Oman

Jamuan makan malam yang  diiringi  alunan music tradisional negara teluk itu digambarkan Netanyahu dalam rapat kabinetnya dengan ungkapan “diselingi pembicaraan penting”, sebuah isyarat yang menunjukkan kemungkinan akan adanya kunjungan lain setelah pertemuan itu.

Dalam waktu hampir bersamaan, Menteri Olahraga dan Kebudayaan Israel Miri Regev juga baru kembali dari  ibu kota UAE  Abu Dhabi dengan oleh-oleh luar biasa. Dimana atlet judo negaranya sukses merebut emas, sehingga peristiwa langka berupa pengibaran bendera dan nyanyian lagu  Israel berkibar megah di negara teluk itu.

Pada bagian lain masih di UAE, seorang pejabat Israel berbicara tentang  “Perdamaian dan keamanan” dalam sebuah event di Dubai.

Sementara dari  Oman sendiri,  Menteri Transportasi negara tersebut mengusulkan adanya pembangunan jalur kereta yang melintasi Israel dan  negara-negara Arab.

Semua pembicaraan diatas seolah melupakan fakta bahwa mereka tak satupun yang memiliki hubungan diplomatic satu sama  lain.

 Padahal sejarah perjalanan hubungan negara teluk tak bisa dilepaskan dari konflik dan sejumlah perang, menyusul pendirian negara Israel pada tahun 1948.

“Kunjungan Netanyahu tersebut sangat penting karena ada “es yang mencair” ujar mantan diplomat  Israel, Dore Gold seraya menyebut bahwa symbol-simbol menjadi elemen kunci, seperti dikutip dari laman BBC.Co.Uk.

“Negara-negara Arab secara resmi menggelar pertemuan tahunan, satu sama lain sudah saling mengetahui, namun mereka enggan mengambil langkah lebih jauh. Dan sekarang semua mulai berubah.”

Pengamat menyebut, terjadinya kontak tersebut tak lain karena seluruh negara itu punya satu kekhawatiran yang sama terhadap Iran. Karena mereka semua khawatir dengan ambisi Iran yang terus ingin meningkatkan pengaruh dan berpeluang  membuat ketidakstabilan kawasan itu.

Apalagi dalam beberapa peristiwa, Iran terbukti ikut terlibat dalam krisis yang terjadi di Syria dan Irak. Negeri para Mullah itu juga mendukung pemberontak Yaman serta kelompok militant  Hezbollah in Lebanon,  dan kelompok jihad Islam Palestina.

Kondisi tersebut juga senada dengan upaya pemerintah AS yang terus mendorong negara-negara teluk membentuk aliansi dengan Israel untuk membendung Iran.

Namun, langkah diplomatic mendapat peringatan dari Palestina yang selama ini relative dekat dekat  Iran. “Pemulihan hubungan diplomatic Israel dengan negara-negara teluk, tanpa mereka (Israel) memperbaiki hubungan  dengan Palestina, dan membiarkan mereka tetap memegang kendali senjata, tidak akan bermanfaat dan membahayakan”ujar pimpinan senior Organisasi Pembebasan Palestina (PLO)  Hanan Ashrawi

 Dirinya juga memperkirakan normaliasi tersebut bisa mengancam Inisiatif Perdamaian Arab yang terdiri dari 22 anggota Liga Arab yang ditanda tangani pada tahun 2002.

Salah satu isinya pemulihan hubungan diplomatik Israel dengan negara-negara Arab hanya bisa dilakukan jika negara zionis tersebut mundur dari seluruh tanah pendudukan yang mereka rebut saat berlangsungnya perang Timur Tengah tahun 1967.

 Saat ini baru dua anggota Liga Arab yang mengakui kedaulatan Israel  yakni Mesir dan Jordania.

Sementara proses perdamaian Israel dan Palestina justru berbalik surut sejak tahun lalu. Itu  terjadi setelah Palestina yang menghendaki Jerusalem Timur sebagai Ibu kota masa depan menolak pengakuan presiden AS Donald Trump atas Jerusalem sebagai ibu kota Israel.

Pada bagian lain,  duta besar  AS untuk Timur Tengah Jason Greenblatty ang terus bolak balik ke kawasan tersebut menyambut gembira atas kunjungan Netanyahu ke Oman tersebut. “Kunjungan tersebut sangat membantu bagi terciptanya upaya perdamaian dan atmosfir stabilitas, keamanan, kesejahteraan antara Israel, Palestina dan negara-negara tetangga mereka,”ujarnya lewat ciutan twitter.

Pada sisi lain, seorang analis memperkirakan, langkah Netanyahu tersebut merupakan bentuk lain atas dukungannya kepada pangeran Arab Saudi Mohammmad Bin Salman dalam kasus hilangnya wartawan Amerika Serikat Jamal Khasoggi di konsulat Arab Saudi Istanbul Turki.  Karena bagi negara-negara kawasan, ancaman utama mereka saat ini adalah Iran.  “Pembunuhan Khashoggi sangat tidak bisa diterima namun harus mempengaruhi Saudi, karena masalah yang lebih besar itu adalah Iran,”tandasnya.

Sementara Bahrain yang juga menjadi salah satu anggota negara Teluk dan telah menempati posisi tegas dalam hubunganya dengan Israel mendukung Oman atas kunjungan Netanyahu itu.

Namun masyarakat Timur Tengah sendiri yang punya hubungan emosional dengan warga Palestina akan menemui fakta bahwa meraih kemenangan tanpa proses perdamaian kian sulit digapai.

Itu juga yang mungkin sedang dilakukan oleh pimpinan sejumlah negara, mengakui keberadaan negara Israel, meski  acara jabat tangan, undangan dan Bahasa tubuh yang ramah antar negara yang berseteru tak terbayangkan sebelumnya.