BREAKINGNEWS.CO.ID - Kehadiran Masyarakat Cinta Masjid (MCM) semakin menjamur di berbagai provinsi di Indonesia. Saat ini, telah terbentuk 14 pengurus cabang provinsi dan rencananya 10 pengurus cabang Provinsi baru segera dikukuhkan.

Ketua Umum MCM, Wishnu Dewanto mengungkapan pengukuhan pengurus cabang akan dilakukan pada Sabtu (6/4/2019), di Jakarta. Sebelum acara tersebut MCM juga bakal menggelar Rapat pemimpin nasional (Rapimnas).

Adapun Rapimnas digelar untuk mengajak pengurus masjid berfikir sama dan memastikan mengembalikan fungsi masjid dan menjadi tempat pemersatu umat. "Pengukuhan yang baru ini kami harapkan bisa melanjutkan program-program MCM di daerah. Total saat ini ada 24 provinsi, 14 sudah ada ditambah dengan 10 Provinsi yang baru," ucap Whisnu di Masjid Cut Meutia, Menteng, Jakarta.

Whisnu mengatakan, kehadiran MCM di tengah masyarakat dinilai memberikan sebuah pencerahan berfikir melalui koridor silaturahmi dan menjaga fungsi sesungguhnya masjid. "Saya pikir MCM lahir karena ada silahturahmi yang kuat dengan pengurus-pengurus masjid. Pada prosesnya, ada banyak sekali temuan MCM akan prilaku yang tak semestinya dilakukan di sebuah tempat ibadah. Tindakan hoax dan politik praktis kerap dilakukan di masjid, apalagi saat ini tengah memasuki musim politik," ucap Whisnu.

"Tetapi, MCM menyikapinya dengan memperkuat silaturahmi. Oleh karenanya, kehadiran MCM dapat memberikan sebuah pencerahan. Khususnya, saat penceramah sholat jumat ataupun sesi lainnya," tambahnya.

Lebih lanjut, Whisnu menegaskan, memasuki pemilu yang bakal digelar 17 April 2019 ini, masjid harus benar-benar menjadi tempat ibadah dan tidak dijadikan tempat untuk memobilisasi serta menggiring orang untuk mendung salah satu calon. "Kami yakinkan MCM tidak membedakan siapapun baik itu pendukung siapapun, kami menerima semua dengan baik sepanjang orang itu tidak menjalankan politik praktik di masjid," tutur Whisnu.

Perangi Politik Praktik di Masjid

Sementara itu, Ketua Dewan Pembina MCM Budi Karya Sumadi mengajak para pengurus masjid dan pendakwah harus menghadirkan suasana yang sejuk dan menolak adanya hoax di lingkungan masjid.

"Hoax itu yang pasti itu melenceng dari ajaran Nabi Muhammad. Berbohong kepada diri sendiri saja salah, apalagi hoax kepada umat yang besar. Umat Islam adalah umat yang besar dan mayoritas di Indonesia. Namun, tidak semuanya memiliki akses informasi. Umat Islam membutuhkan ajaran-ajaran yang sejuk, teduh, agar kita menjalankan ibadah dengan baik dan khusyu," kata Budi.

menuturkan bahwa hoax adalah prilaku yang bertentangan dengan ajaran Islam dan Pancasila yang menjadi dasar negara Indonesia. Bagi pihak-pihak yang berkontestasi di pemilu 2019 ini, lanjut Budi, diharapkan dapat seiring dengan ajaran Islam dan tidak memanfaatkan masjid sebagai upaya memobilisasi dan menggiringnya orang untuk kepada salah satu calon.

"Pancasila sudah mengakomodasi dan berlandaskan ajaran Islam, sedangkan hoax ini di luar batas. Oleh karenanya, kami menghimbau berhentilah menebar berita kebohongan. Kalau memang ingin berkontestasi di pemilu 2019 ini lakukan dengan secara jantan, mengadu program, jangan memfitnah orang lain karena akan membawa pemikiran-pemikiran yang buruk untuk orang lain," tegas pria yang juga menjabat sebagai Menteri Perhubungan (Menhub) itu.