BREAKINGNEWS.CO.ID – Putra Mahkota Arab Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman (MbS), dilaporkan sempat mengatakan kepada salah satu ajudannya, Turki Aldakhil, bahwa dirinya rela mengejar wartawan Jamal Khashoggi dengan cara apapun, termasuk dengan 'menembakkan peluru'.

The New York Times memberikan laporan pembicaraan keduanya terjadi pada September 2017 lalu, sekitar 13 bulan sebelum pembunuhan Khashoggi pada 2 Oktober 2018 lalu di Konsulat Saudi di Istanbul, Turki. Dalam percakapannya, MbS disebut mengatakan dia akan membawa Khashoggi secara paksa jika koresponden The Washington Post itu tidak bisa dibujuk untuk kembali ke Saudi.

Dikutip AFP Jumat (8/2/2019), percakapan MbS dan ajudannya itu terungkap berkat penyadapan yang dilakukan sejumlah badan intelijen Amerika Serikat (AS). New York Times memberitakan intelijen AS mengetahui MbS siap membunuh Khashoggi, meskipun belum tentu dengan cara menembak.

Penyadapan seperti itu biasa dilakukan Badan Keamanan Nasional AS untuk menyimpan setiap komunikasi yang dilakukan para pemimpin global, termasuk negara sekutu. MbS sendiri sudah lama disebut-sebut sebagai otak di balik pembunuhan Khashoggi. Badan Intelijen Amerika Serikat (CIA) bahkan dilaporkan sudah menarik simpulan bahwa pewaris takhta kerajaan Saudi itu terlibat dalam pembunuhan Khashoggi.

Meskipun sempat membantah, Saudi pada akhirnya mengakui bahwa Khashoggi tewas dibunuh di dalam gedung konsulatnya. Riyadh juga mengakui jasad Khashoggi telah dimusnahkan. Akan tetapi, Saudi tetap menampik keterlibatan dalam konspirasi pembunuhan itu. Negara itu beralasan pembunuhan Khashoggi dilakukan oleh tim yang bergerak tanpa perintah dari kerajaan.

Sebelumnya, pelapor Khusus Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) Agnes Callamard, melakukan kunjungan ke Turki guna menyelidiki kasus kematian wartawan Jamal Khashoggi. Hasil dari kunjungan tersebut dirinya menyimpulkan bahwa pejabat Arab Saudi memiliki rencana serta membunuh Khashoggi.

"Bukti-bukti yang dikumpulkan selama saya bertugas di Turki menunjukkan mendiang Khashoggi merupakan korban dari pembunuhan yang terencana dan brutal, dirancang dan dilakukan oleh pejabat Kerajaan Arab Saudi," kata Agnes di Jenewa, Swiss, seperti dilansir AFP, Jumat (8/2). Khashoggi diyakini dibunuh di Konsulat Saudi di Istanbul, pada 20 Oktober 2018 lalu. Saat itu dia hendak mengurus administrasi karena akan menikahi kekasihnya, Hatice Cengiz. Dia diduga dihabisi oleh tim pembunuh yang diterbangkan langsung dari Saudi.

Diduga kuat Khashoggi dibunuh karena kerap mengkritik Raja Salman bin Abdulaziz al-Saud soal situasi di negara itu. Menurut hasil penyelidikan aparat Turki, Khashoggi diduga dibunuh oleh tim yang terdiri dari 15 orang di Konsulat Saudi. Menurut aparat Turki, Khashoggi dicekik hingga tewas, kemudian tubuhnya dimutilasi dan dihancurkan dengan cairan asam.