BREAKINGNEWS.CO.ID - Terhitung sejak satu tahun terakhir ini (2018-2019), klub gulat bernama Matador, semakin 'bertaji' di rana gulat DKI Jakarta. Kehadirannya mulai membius penonton, untuk terdiam sejenak, apabila menyaksikan pegulat Matador dari Ragunan Jakarta Selatan bertarung di atas matras.

Pemandangan seperti itu – terkesima dalam menyaksikannya - bisa dibuktikan dalam pertandingan gulat tingkat DKI Jakarta yang diselenggarakan oleh Sudin Olahraga Jakarta Utara di GOR Jatinegara, Klender, Sabtu (28/9/2019) kemarin. Kejuaraan tersebut diikuti oleh hampir 200 pegulat dari sembilan klub gulat, masing-masing Matador dari Ragunan Jakarta Selatan, Bersinar Jakarta Timur, Rawabuaya, North Star Jakarta Utara, Cengkareng Jakarta Barat, Jakarta Pusat, GRJB, Kemanggisan, dan Grogol.

Matador sendiri turun dengan kekuatan 50 pegulat, jauh melebihi klub lain manapun di Jakarta dari segi banyaknya peserta dalam turnamen tersebut. sementara pegulat dari klub lainnya menurunkan sekitar masing-masing 25 – 30 pegulat. North Star menurunkan 19 pegulat. Karena menurunkan banyak pegulatnya, sering terjadi pegulat Matador harus bertemu (bertanding) melawan pegulat dari Matador juga.

Pertemuan antar-pegulat Matador dalam pertandingan ini tidak hanya terjadi pada babak pertama (penyisihan) akan tetapi sampai di babak semifinal, dan bahkan di babak final. Tercatat ada dua partai final terjadi all the Matador final di tingkat SD. Apa artinya sampai terjadi all the Matador final, dan apa yang hebat dari dari Matador?

Yang pertama, kekuatan prestasi gulat Matador sekarang ini ada di tingkat Sekolah Dasar. Kedua, - dan ini yang utama, - semua pegulatnya memiliki power yang hebat, bertenaga, punya insting bertanding yang bagus, dan dari segi teknik sedikit melebihi pegulat yang lain untuk tingkat SD.

Mungkin saja hal ini karena ada unsur inovatif sang pelatih dengan segala kompleksitas kejelihan instingnya. Ketiga, ada dukungan moril yang luar biasa dari yang empunya Matador yaitu Pak Haji Heru Pujihartono. Keempat, Matador ke depannya akan bisa menjadi Legacy (warisan) gulat baru untuk di Jakarta.

Mengenai kehebatan Matador yang pertama, yakni kekuatannya di tingkat SD, hal ini dapat dibuktikan pada dua kejuaraan gulat di Jakarta pada bulan September 2019 ini yaitu kejuaraan gulat yang diselenggarakan oleh Sudin Jakarta Barat di Cengkareng, dan kejuaraan di gulat di GOR Jatinegara yang diselenggarakan oleh Sudin Olahraga Jakarta Utara pada Sabtu (28/9).

Dari dua kejuaraan itu, Matador tampil dengan kekuatan yang sama dan meghasilkan presrtasi yang sama yakni juara umum tingkat SD dengan perolehan medali yakni lima medali emas, empat medali perak, dan empat medali perunggu.
Hanya satu medali emas saja di tingkat SD yang disisahkan oleh Matador, sehingga Rawabuaya, klub gulat yang sudah lama beredar di Ibukota, hanya bisa memetik satu medali emas sebagai juara umum keduanya. Selain merebut lima medali emas dari enam nomor yang dipertandingkan di tingkat SD, Matador juga meraih 4 medali emas.

Itu artinya, masih ada kemungkin Matador untuk menyapu bersih medali emas yang dipertandingkan di seluruh tingkat SD. Lebih dari itupun, kalau jumlah kelasnya ditambah yakinlah Matador bisa merebut gelar juaranya juga.

Hal kedua, yang menjadi kekuatan Matador yakni semua pegulatnya memiliki power yang hebat, bertenaga, dan punya insting bertanding. Mari kita lihat beberapa juara di tingkat SD dari Matador. Ada lima juara dari Matador. Sebut satu, misalnya, pegulat putri di kelas 35 kg, Nazwa Dwi Indriyani. Dari tiga pertandingan yang diselesaikan hingga babak final, ia mampu menyelesaikan pertandingan di bawah satu menit. Kedua, tekninya sangat jitu, meskipun teknik yang dipakai hanya yang itu-itu saja yakni mengambil kaki lawan, namun itu dilakukan dengan penuh kekuatan (power full) dan dengan teknik yang jitu penuh keyakinan. Dari babak pertama ia menang mutlak dengan 10-0, demikian pada babak semifinal, dan final, hasilnya sama, 10-0 dalam waktu kurang dari satu menit.

Naswa Dwi Indriyani didampingi ibunya, Ibu Murni, mengisahkan, sejak tahun 2018 ia sudah meraih empat kali juara di kelas 35 kg, dan belum ada pegulat di Jakarta yang mampu mengalahkannya. Nazwa, pelajar kelas 6 SD Ragunan ini bisa jadi adalah calon pegulat terbaik DKI dan besar kemungkinan menjadi pegulat nasional mewakili Indonesia di kanca internaisonal yang akan datang. Tentu tidak tidak hanya Nazwa, semua pegulat Matador yang juara sekarang ini bisa mewakili Indonesia kalau memang berniat sungguh-sungguh di gulat. Itu semua dari hasil merekam bentuk permainan mereka di atas matras kejuaraan gulat di GOR Jatinegara kemarin.

Tentu saja, prestasi pegulat sangat bergantung dari inovatif sang pelatih, dari kedalaman sang pelatih menyelami kejiwaan anak, dan dari kesungguhannya mempraktekan totalitas keutamaan seorang pelatih yaitu bisa berlaku sebagai ayah yang baik, kawan yang baik, dan sebagai guru yang baik dan bijaksana bagi anak didiknya.

Bisa jadi seorang atlet gagal meraih prestasi, kesalahannya bukan pada atletnya tetapi karena karena penanganan yang salah dari seorang pelatih. Maka bagaimanapun pelatih ada kunci kesuksesan prestasi, karena dialah penentu, sekaligus memilah dan memilih mana atlet berbakat, mana yang bukan.

Matador memang memili pelatih yang mumpuni, sedikit sentuhan tangan dingin, dan punya insting baik dalam melihat bakat anak. Yang berprestasi dipolesnya, ditangani secara intensif baik dari segi fisik dan psikis. Maka tidaklah heran prestasi-prestasi gulat yang hebat lahir dari Matador. Mungkin ke depannya, pegulat yang juara di tingkat SD 2019 sekarang ini bisa menjadi kekuatan gulat DKI Jakarta untuk 10 tahun mendatangn (tahun 2030). Bisa jadi menjadi wakil Indonesia di Olimpiade 2032 ketika Indonesia menjadi tuan rumah pesta olahraga dunia Olimpiade di Jakarta.

Ketiga, tentang dukungan moril dari yang empunya Matador. Kekuatan ini jarang dimiliki oleh kebanyakan klub di Indonesia kecuali sepakbola. Klub-klub dari cabor lain, apalagi gulat, sangat sulit mendapatkan dukungan moril dan materil dari pemilik klubnya, sering yang empunya klub adalah mantan pegulat, dan semua uang gajiannya sebagian besar dihabiskan untuk membiayai menghidupkan klub gulat demi hobi dan masa depan gulat. Itulah yang terjadi.

Hal ini tidak seperti di Matador. The owner of Matador, memang punya niat besar untuk memajukan gulat Jakarta lewat Matadornya. Lewat Matador inilah, tampaknya Pak Haji Heru seperti ingin bereksperiman tentang sebuah metode yang baik dan berdaya guna dalam menata dan membangun prestasi olahraga di Indonesia. Pengusaha katering, Nendia Primarasa dengan vendornya di Bina Harapan Duren Tiga, Pancoran Jakarta Selatan ini, menjadi kekuatan gulat Matador yang utama untuk ke depannya.

Haji Heru Pujihartono sungguh-sungguh melakukan pekerjaan membina, dan mendedikasikan dirinya untuk apa yang sedang ia perjuangkan yaitu lewat gulat manusia Indonesia boleh berprestasi. Itulah kelebihan yang dimiliki oleh Matador, dan pemilik Matador.
Keempat, Matador menjadi Legacy (warisan) gulat dari Selatan Jakarta, itu semua bisa terlihat dari sejumlah pertandingan dalam setahun belakangan ini. Matador tampaknya akan mewariskan sesuatu yang lain untuk prestasi gulat masa depan, tidak sekadar berprestasi untuk Jakarta, akan tetapi untuk tingkat nasional, dan kalau memungkinkan untuk Olimpiade. Ini baru Matador, dan ini benar-benar Matador baru sebagai Legacy gulat DKI dari Jakarta Selatan.

Selamat untuk Matador, selamat juga untuk para pemenang yang menjadi masa depan prestasi gulat DKI Jakarta.