BREAKINGNEWS.CO.ID - Ratusan orang dari Korps Merah Putih menggeruduk Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Pada kesempatan ini massa, melakukan aksi potong ayam jantan di depan Gedung KPK. Ini sebagai simbol matinya kepemimpinan Agus Rahardjo beserta komisionernya, dalam memantau tindak-tanduk bawahannya.

Mengingat penyidik senior KPK, Novel Baswedan tak kunjung diberi sanksi oleh Agus Rahardjo. Padahal Novel diakui sebagai Kader Partai Gerindra oleh Arief Poyuono dan Andre Rosiade.

"Kalau tidak ada pemberian sanksi maka Novel tidak akan tobat-tobat. Bisa juga dalam penindakan kasus korupsi bisa tebang pilih. Ini bahaya," kata Koordinator KMP Ichal, di Gedung KPK, Selasa (21/5/2019) siang.

Tak hanya demikian, lanjut Ichal,  pengangkatan puluhan penyidik KPK tanpa melewati prosedur yang ditentukan pun turut serta menambah pelik persoalan di dalam internal KPK. Seharusnya, pengangkatan penyidik berbasis regulasi perundangan KPK dan melalui seleksi ketat.

"Kalau KPK seperti ini lalu bagaimana kelanjutan proses pemberantasan korupsi bisa dilakukan secara netral?" ujar Ichal mempertanyakan.

Ichal menekankan, KMP juga meragukan netralitas Komisi Pemberantasan Korupsi itu. Pasalnya, tindak-tanduk yang tergambar di atas, mengarah pada suatu tujuan kepentingan politik golongan tertentu, dalam proses pemberantasan korupsi.

"Bagaimana KPK bisa menunjukkan bahwa KPK Itu netral? KPK harus stop jangan bermain politik, KPK ini bukan lembaga politik tetapi lembaga berantas korupsi," tegasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, massa KMP meminta agar lembaga antirasuah tersebut segera memecat Novel Baswedan sebagai penyidik KPK. Pasalnya, Novel diduga terkait dengan keterlibatannya berpolitik praktis.

"KPK jangan diam jangan sampai rakyat marah. Novel sudah berulang kali terkait dengan politik. KPK harus responsif, sekarang sudah banyak desakan rakyat bahwa Novel harus dipecat karena sudah berpolitik," kata Koordinator KMP, Mas Latu, Selasa (7/5/2019).

Lantas, KMP pun mempertanyakan alasan KPK yang sejauh ini terkesan mengistimewakan Novel. Sebab, tak pernah dilayangkan teguran apalagi sanksi tegas. Padahal sudah berulang kali bersinggungan dengan hal-hal yang berkaitan dengan politik.

Mulai dari disebut akan dicalonkan sebagai Kejagung jika Prabowo-Sandi menang di Pilpres 2019. Hingga foto bersama pendukung Prabowo-Sandi sembari mengacungkan pose dua jari.