BREAKINGNEWS.CO.ID -  Dengan luas dan beragam persoalan yang dihadapi, pemerintah Indonesia sudah harus berpikir tak biasa atau out of the box dalam menyelengarakan roda pemerintahan. Pasalnya, jika hanya mengandalkan pola SWOT (Strenght, Weaknesses, Opportunity, Threats), berpotensi melemahkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Pandangan tersebut diutarakan  oleh  Mardigu Wowiek Prasantyo dalam bincang-bincang ringan bersama  sejumlah awak media di Jakarta Rabu (14/8/2019).

“Poin utama saya dalam mengedepankan pola tak biasa dalam pengelolaan tersebut berpatokan pada prinsip belief sytem atau rasa percaya bangsa Indonesia untuk bangkit kembali untuk maju dan menjelma sebagai macan Asia,”ujar Mardigu.

Belief System yang dimaksud Mardigu adalah  sebuah Sistem Keyakinan yang sudah tertanam lama di alam bawah sadar seseorang, yang memerlukan  sebuah teknik khusus untuk membangkitkannya.

Perlu diketahui, Otak adalah conscious yang menguasai informasi pengetahuan, dan hanya menguasai 12 persen dari sebuah tindakan. Sedangkan subconscious-nya menguasai 88 persen sisanya. Jadi subconcious-lah yang berkuasa.

Oleh karenanya di dalam solusi pengelolaan negara berdasarkan SWOT NKRI butuh pemikiran out of the box untuk mengubah belief system bangsa Indonesia ini menjadi ‘Macan Asia’. Dan melalui 100 episode Cara Cerdas Bernegara dalam tayangan youtube-nya, Mordigu Wowiek Prasantyo mengupas banyak hal agar bangsa ini ‘punya kepercayaan diri’ bahwa Indonesia sesungguhnya sebuah negara yang berdaulat, mandiri, dan mampu menjadi negara besar seperti Cina dan Amerika Serikat sekali pun.

Mardigu ,memberi contoh tentang  bagaimana Indonesia bisa berdaulat dengan kekayaan mineralnya. Atau, bagaimana para pemimpin di  negara ini bersama lembaga lembaga negara, pemerintah, partai partai politik y mampu mengelola negara berdasarkan SWOT NKRI-nya.

Untuk itu, Indonesia harus berani merevolusi diri sebagai bangsa dan negara yang berdaulat yang itu bisa membawaI Indonesia  Cina dan Amerika Serikat sekalipun sebagai ‘Macannya Asia’. Jalan ke arah itu sudah tersedia demi terwujudnya kedaulatan terhadap tujuh matra yang telah dimililki.

Simak saja paparannya pada tema-tema antara lain 200 Ton Emas Indonesia Lari Ke Luar Negeri, Ini Dampak Negatifnya Perang Dagang Amerika Atas Cina, Jokowi Got Talent 2019, Buat Kebijakan Ekonomi Pro Rakyat, Orang Indonesia Punya 5 Persen Saham Google, Mantap Kalo Saja Berani Lakukan Ini Pasti Cina Amerika Tunduk, Impor Kok Beginian Sih, State Terorism dan Emas Papua Barter Komunisme, Gila Ternyata Sederhana Caranya Menjadi Negara Lebih Besar Dari Amerika, Apa Sih Megatrends 2030, hingga Ternyata Solusi Ekonomi Indonesia Terletak Di Generasi Milenial, dan seterusnya.

Persoalan-persoalan diatas adalah wujud rasa resah, kegelisahan  serta kekhawatiran yang wajar demi tegaknya Indonesia secara sejajara dengan bangsa lain.

Modalnya sendiri sudah cukup bagi Indonesia untuk  menjadi negara yang juga perkasa.  “Perlu gila untuk membangun negara kita. Butuh nyali besar untuk berdaulat. Itu baru Revolusi” tandas Mardigu.

Dan sebagai catatan akhir Mardigu WP bahwa kini banyak negara telah menerapkan Souverign Wealth Fund sebagai Modern Economics Theory, disamping selanjutnya digantikannya juga New Keynesian Economics dengan Michele Hudson Economics. Selain kini telah dimulainya Printing Money Berbasis Project (Longterm Project, red) sebagai alternatif pembiayaan yang bisa dilakukan oleh negara berdaulat. Jadi untuk mengelola negara ini, sistemnya yang di bangun bukan manusianya.

“Dengan diskusi kali ini, muda-mudahan teman-teman media bisa menyampaikan kepada pembacanya. Sehingga gagasan saya bisa dibaca para calon pengelola negara yang akan dilantik Oktober 2019 mendatang”, pungkas Mardigu WP.