BREAKINGNEWS.CO.ID – Meksiko menyelenggarakan pemilihan presiden pada Minggu (1/7/2018). Nantinya, calon unggulan diperkirakan merupakan sosok anti-pembaharuan yang bisa memperkuat nasionalisme serta mempertajam perpecahan dengan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

Mantan walikota Ibu Kota Meksiko, Andres Manuel Lopez Obrador memimpin jajak pendapat sepanjang kampanye. Dia akan menjadi orang pertama dari partai sayap kiri yang terpilih menjadi presiden dalam beberapa dekade, apabila ia berhasil mengalahkan Partai Revolusioner Institusional (PRI).

Menempati posisi kedua dalam pemilihan 2006 dan 2012, Lopez mengklaim bahwa hanya dirinya yang dapat membersihkan beberapa pejabat pemerintah saat ini yang korupsi, menurunkan tingkat kriminalitas yang melonjak, serta meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang saat ini di bawah rata-rata.

"Presiden baru Meksiko akan memiliki otoritas moral dan politik untuk menuntut setiap orang berperilaku dengan itegritas dan menjadikan kejujuran sebagai proritas seperti jalannya hidup," kata Lopez Obrador dalam kampanye terakhirnya di stadion sepakbola di Ibu Kota Mexico City.

Menurut undang-undang dilarang untuk melakukan pemilihan ulang terhadap Presiden Enrique Pena Nieto. Akan tetapi nama presiden saat ini tercemar oleh penyelidikan yang menyeret namanya terhadap skandal konflik kepentingan serta pengelapan terhadap pejabar PRI.

Melakukan kampanye tanpa henti selama 13 tahun terakhir, Lopez Obrador telah menyaksikan karir politik yang naik turun dikarenakan partai-partai gagal dalam masalah sosial, ekonomi negara dan tanggung jawab akan kekuasaan.

"Mari kita berharap Meksiko berubah," kata Oswaldo Angeles (20), seorang pendukung Lopez Obrador dari Atlacomulco, sebuah Benteng PRI lama yang berjarak sekitar 90 km dari Mexico City dan kota kelahiran dari Pena Nieto. "Sekarang, kita tidak tahu apakah kita akan datang atau pergi" tambahnya.

Lopez Abrado (64), tidak menjelaskan secara rinci kebijakannya. Mencari untuk memanfaatkan dukungan dari nasionalis ekonomi, liberal kiri dan konservatif sosial. Lopez Abrado bersumpah untuk mengurangi ketidaksetaraan, meningkatkan pembayaran dan pengeluaran kesejahteraan, serta menjalankan anggaran yang ketat.

Sebagai lawan vokal dari agenda ekonomi pemerintah, kritik yang dilancarkannya membuat marah para bantuan bisnis yang ramah. Namun Lopez telah mengajukan ide referendum untuk menyelesaikan masalah yang memecah belah seperti melanjutkan pembukaan industri minyak dan gas untuk modal swasta seperti yang dilakukan Pena Nieto.

Saingannya Ricardo Anaya, mantan pemimpin Partai Aksi Nasional (PAN) masuk dalam aliansi kanan-tengah, dan kandidat PRI, Jose Antonio Meade, mantan menteri keuangan, dalam nuansa yang berbeda memberi dukungan mereka untuk mereformasi energi.

Upaya mereka untuk mengejar ketertinggalan dari Lopez Obrador telah terhambat oleh serangan yang dilemparkan satu sama lain, memungkinkan dia untuk memimpin jajak pendapat lebih dari 20 poin persentase. Mereka juga mewakili kedua partai yang telah memerintah Meksiko modern.