JAKARTA – Kepala Polisi Kuala Lumpur, Mazlan Lazim mengatakan, mantan Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad, diperiksa polisi atas tuduhan menyebarkan berita palsu (Fake News). Kasus tuduhan berita palsu yang menimpa Mahathir merupakan satu dari delapan laporan yang diterima polisi terkait pemilu Malaysia ke-14 yang bakal digelar 9 Mei 2018 mendatang.

"Untuk kasus berita palsu, itu melibatkan klaim Mahathir bahwa jet yang disewanya untuk terbang ke Langkawi telah disabotase, Jumat lalu," kata Mazlan, Kamis (3/5/2018).

Jumat (27/4) lalu, Mahathir yang saat ini menjadi pemimpin oposisi di Malaysia tersebut mengklaim pesawat carteran yang akan membawanya ke Langkawi telah disabotase oleh pihak-pihak tertentu.

Ketua Partai Pribumi Bersatu Malaysia tersebut naik pesawat di Subang sebelum diberitahu oleh pilot kalau salah satu ban pesawatnya bocor. Dia lalu pindah ke pesawat lainnya.

Otoritas Penerbangan Sipil Malaysia (CAAM) belakangan menyebut tidak ada bukti bahwa pesawat itu sudah disabotase.

Gerakan Akar Rumput Malaysia UMNO pun melaporkan Mahathir ke polisi, Selasa (1/5). Mereka menyatakan tuduhan mantan perdana menteri Malaysia itu menyebabkan ketidakpastian serta persepsi yang salah di kalangan penentang koalisi berkuasa, Barisan Nasional.

Mazlan mengatakan Mahathir diperiksa di bawah Undang-undang Anti-Berita Palsu 2018. Apabila terbukti bersalah Mahathir bisa dihukum penjara hingga enam tahun serta denda sebesar 500 ribu ringgit atau sekitar 1,8 miliar rupiah atau keduanya.

Mahathir mengaku tidak tahu terhadap pemeriksaan terkait tuduhan berita palsu itu. "Saya tidak khawatir terhadap apapun," kata Mahathir dalam sebuah reli di Kuantan, Rabu (2/5) malam.