BREAKINGNEWS.CO.ID - Presiden Prancis, Emmanuel Macron, mengecam tindakan para pengunjuk rasa 'rompi kuning' yang menentang kebijakannya. Pasalnya, demonstrasi yang memiliki tujuan untuk menolak kenaikan pajak bahan bakar minyak (BBM) tersebut berujung ricuh dan menuai tindak kekerasan.

Macron menegaskan kalau dirinya tidak akan menoleransi segala bentuk tindak kekerasan. "Saya tidak akan pernah menerima kekerasan," kata Macron dalam sebuah konferensi pers di Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 yang berlangsung di Buenos Aires, Argentina, dikutip dari AFP, Minggu (2/12/2018).

Menurut Macron, tidak ada alasan yang bisa membenarkan tindak kekerasan itu. Unjuk rasa besar-besaran yang diikuti para pengguna rompi kunin itu berujung ricuh yang menelan korban jiwa dan ratusan orang luka-luka. Aksi ini berlangsung dua gelombang yakni di Prancis Timur pada 17 November 2018 dan di Paris pada 24 November 2018. Dikarenakan rusuh, polisi dikabarkan sangat terpaksa menembakkan gas air mata kepada sekitar 300,000 orang yang turun ke jalan selama kurang-lebih satu minggu itu. Demo juga berdampak pada pendapatan harian para peritel turun 35 persen, menurut kelompok konsumen.

"Tidak ada alasan yang membenarkan bahwa pihak berwenang diserang, bisnis dijarah, orang yang lewat atau wartawan terancam atau bahwa Arc du Triomphe (monumen di dekat Istana Presiden Prancis) dicemari," tutur Macron. Macron menuding para pelaku kericuhan dalam demo itu tidak menginginkan perbaikan, melainkan memang ingin membuat kekacauan.

Presiden yang masih berusia 40 tahun itu menyatakan akan menindak tegas pelaku kericuhan di demo 'rompi kuning'. "Mereka akan diidentifikasi dan dibawa ke pengadilan untuk tindakan mereka. Saya akan selalu menghargai perdebatan dan saya akan selalu mendengarkan pertentangan tetapi saya tidak akan pernah menerima kekerasan," ucap Macron. Sepulangnya dari Argentina, Macron akan mengadakan pertemuan dengan Perdana Menteri dan Menteri Dalam Negeri di Paris. Mereka akan menindaklanjuti demonstrasi dan kericuhan pada aksi itu.