BREAKINGNEWS.CO.ID – Keengganan Calon Presiden Prabowo Subianto untuk menerima hasil hitung cepat sejumlah lembaga survey karena hasilnya berbeda dengan  exit poll keluaran Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, membuat sejumlah pihak angkat bicara.

Hal tak lain karena Prabowo menuding hasil lembaga survei dibuat untuk menggiring opini duet Prabowo-Sandi kalah. Menanggapi pernyataan  tersebut, lembaga survei menantang tim Prabowo untuk membuka data exit poll.

"Dia (Prabowo) keluarkan data versi pollster yang memenangkan dia. Buat saya ini enggak sehat. Buka saja, ada kantor, SDM-nya atau enggak, dan audit semua proses mereka. Kami enggak bohong dan enggak sanggup mengarang 2002 TPS," tantang Hasan Nasbi, CEO Cyrus Network di Jakarta, Rabu (17/4/2019).

Seperti diketahui, hingga malam usai pencoblosan Pilpres dan Pileg, sejumlah lembaga survei menyatakan pasangan nomor urut 01 Joko Widodo-Ma'ruf Amin  sementara meraih keunggulan. Cyrus Network yang bekerja sama dengan CSIS misalnya menyatakan Jokowi-Ma'ruf unggul 55,77 persen dari data yang masuk sebesar 87,66 persen hingga pukul 17.12 WIB.

Perhitungan cepat CSIS bersama Cyrus Network mengambil sampel dari 2002 TPS di 34 provinsi yang dipilih acak melalui metode Multistage Random Sampling. Tingkat kepercayaan perhitungan cepat ini 95 persen dengan margin of error sekitar satu persen.

Sementara exit poll BPN di 5.000 TPS menunjukkan Prabowo-Sandi menang 55,4 persen dan hasil quick count menang 52,2 persen.

Menurut Hasan, Prabowo mengumumkan kemenangan tanpa data. "Hari ini ada lagi kejadian seperti itu dan lebih fatal deklarasi kemenangan tanpa data. Menuduh pollster berpihak. Kami mendukung iya, tapi hasil yang keluar profesional," ucap Hasan.

Dikatakan lagi oleh Hasan,  jika ingin demokrasi berjalan sehat  dan benar, maka sikap tidak sportif harus dihindari, atau mengangkat data yang tak bisa dipertanggungjawabkan. “2002 TPS saja susah apalagi 5000 TPS. Kalau dicocokin enggak akan bisa, pasti ngawur," tutur Hasan melanjutkan.

Selain dari Cyrus Network, lembaga survei Litbang Kompas juga menyatakan hasil hitung cepat yang mereka lakukan independen. Hasil survei Litbang Kompas hingga pukul 17.44 WIB dengan total suara masuk 79,75 persen menunjukkan keunggulan Jokowi-Ma'ruf dengan 64,16 persen. "Memang deploy quick count semua ini tentu sangat costly. Namun karena Kompas merasa tanggung jawab kepada pembaca dan pemasang iklannya inilah pertanggungjawabannya, sehingga seluruh biayanya sendiri. Sehingga tidak ada partisipasi pihak manapun, jadi kami independen," kata Kepala Litbang Kompas Harianto Santoso.

Sedangkan Peneliti LSI Denny JA, Fitri Hari, menyatakan menghormati sikap para kandidat soal hasil exit poll. Namun, dia menyatakan hal itu bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. "Prinsipnya kami tetap menggangap KPU sebagai otoritas yang menetapkan pemenang Pilpres 2019. Kami bekerja independen," kata Fitri.