BREAKINGNEWS.CO.ID - Kepolisian Republik Indonesia (Polri) bekerja sama dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) untuk menciptakan Pemilu 2019 yang aman, damai dan sejuk, terlebih di media sosial,

Pasalnya, jelang berlangsungnya pesta demokrasi lima tahunan itu, hoax alias kabar bohong sangat masif terjadi di media sosial. Karo Multimedia Div Humas Mabes Polri, Brigjen Pol Drs Budi Setiawan MM mengatakan bahwa di era digital ini, media sosial memegang peranan yang sangat penting dalam membantu menciptakan terselenggaranya Pemilu yang sejuk, aman dan damai.

"Menurut data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2017 terdapat  143 juta penduduk Indonesia yang mengakses internet dan memanfaatkan jejaring media sosial untuk berkomunikasi. Artinya ada 54 persen ebih masyarakat yang menggunakan media sosial setiap harinya," kata Budi dalam acara seminar nasional dengan tema 'Melawan Hoax Untuk Menciptakan Pemilu 2019 yang aman, damai dan sejuk di media sosial' di Balai Kartini, Jakarta, Kamis (28/3/2019).

Dalam perjalanannya, lanjut Budi, di media sosial bersliweran aneka informasi, termasuk informasi hoax, ujaran kebencian bahkan SARA. Meski Polri sudah sering melakukan penegakan hukum terhadap pelaku yang melakukan hoax, namun sepenuhnya belum bisa meredam peredaran hoax.

"Untuk itu melalui seminar ini, Polri, Pemerintah dan KPU kembali menegaskan dan tanpa henti menghimbau masyarakat agar tidak menyebarkan hoax dan mempolitisasi SARA demi terwujudunya pemilu yang sejuk, aman dan damai," ujarnya.

"Pemilu tinggal beberapa hari lagi, KPU bersama Polri telah menetapkan tagline  'say no to hoax dan politisasi SARA demi Pemilu 2019 yang berdaulat, negara kuat'. Seminar ini adalah upaya Polri dengan Pemerintah untuk mensosialisasikan pengguanaan media sosial secara cerdas, bijak, cermat dengan menghadirkan para pakar dalam bidangnya yang kompeten dan kredibel," imbuh Budi.

Di sela-sela acara tersebut, Brigjen Pol Budi Setiawan menjelaskan bahwa ancaman hoax dan konten negatif di sosial media sudah membahayakan. "Berdasarkan data Bagian Pemantauan dan Analisa Biro Multimedia Divisi Humas Polri, sepanjang tahun 2018 ditemukan 30.056 konten negatif di media sosial yang terdiri dari 602 (2 persen) Hoax, 20.945 (70 persen) Provokasi, 1.120 (4 persen) SARA, 6.886 (23 persen) Hate speech, 491 (2 persen) Radikalisme, dan 12 (0.04 persen) Terorisme. Fakta tersebut tentu harus menjadi perhatian serius," ungkapnya.

Adapun seminar tersebut dibuka oleh Kabainteljam yang diwakili oleh Irjen Pol Suntana, Wakil Kepala Badan Intelijen Keamanan Polri. Sedangkan keynote speech adalah Ketua DPR RI Bambang Soesatyo dan Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara. Sebagai pembicara dalam seminar tersebut adalah Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK), Mahfud MD, Ketua KPU RI Arief Budiman dan pengamat Komunikasi UI, Effendy Gazali.

Seminar dihadiri oleh kalangan mahasiswa perwakilan BEM seluruh Indonesia, penggiat media sosial dan influencer. Terselenggaranya Pemilu yang aman sejuk dan damai pada Pileg dan Pilpres 2019, merupakan konsern dari berbagai pihak termasuk Polri. Dalam seminar itu, pembicara dan peserta juga sharing berbagi pengalaman bagaimana menciptakan media sosial menjadi ruang yang sehat, produktif, positif dan sejuk untuk saling berkomunikasi.