JAKARTA – Tenaga kerja Indonesia asal Nias yang meninggal di Jepang pada pekan lalu, Aksioma Waruwu, dikatakan Direktur Perlindungan Warga Negara dan Badan Hukum Indonesia (PWNI-BHI) Kementerian Luar Negeri Indonesia, Lalu Muhammad Iqbal adalah pencari suaka.

"Dia adalah pencari suaka," kata Iqbal saat ditemui di kantornya di Jakarta Pusat pada Senin (9/4/2018). Iqbal kemudian menuturkan bahwa Aksioma datang ke Jepang dengan menggunakan visa wisata.

Terkait dengan jenazah Aksioma, Iqbal sebelumnya mengatakan bahwa jenazah wanita yang meninggal karena sakit itu akan dipulangkan pada Rabu (11/4/2018) mendatang. Biaya pemulangan jenazah Aksioma berasal dari dana patungan warga negara Indonesia (WNI) yang berada di Jepang bersama Kedutaan Besar Indonesia (KBRI) di Jepang.

Jenazah Aksioma sempat tertahan selama satu pekan di Jepang. Iqbal tidak menampik kalau belum dipulangkannya jenazah Aksioma dikarenakan faktor dana, di mana dana yang dibutuhkan untuk memulangkan seseorang dari Jepang ke Indonesia sangatlah besar.

"Sebenarnya bukan pemulangannya yang susah, jadi yang kita lakukan selama ini adalah jumlah TKI ilegal yang meninggal dunia itu banyak sekali jumlahnya di seluruh dunia. Jadi kebijakannya selama ini kita menggunakan anggaran yang kita miliki itu lebih banyak untuk membantu TKI kita yang bermasalah dan masih hidup, karena kan terbatas juga anggarannya. Jadi, kita fokus membantu permasalahan TKI kita yang masih hidup," ucapnya.

Mengenai status pencari suaka, seperti Aksioma, Iqbal menuturkan status kewargaanegaraan mereka adalah abu-abu. "Kalau kita lihat suaka itu kan ingin melepaskan kewarganegaraan dan meminta kewarganegaraan Jepang, jadi mereka statusnya tidak jelas, apakah dia masih TKI, masih WNI, karena mereka adalah pemohon suaka," ungkapnya.

Dia lalu menyebut, di Indonesia sendiri belum ada peraturan yang menyatakan bahwa apakah orang yang mengajukan suaka di negara lain masih masuk dalam subjek perlindungan atau tidak.