BREAKINGNEWS.CO.ID - Belakangan ini, kasus kecelakaan kapal tengah marak terjadi di Indonesia. Entah apa penyebabnya, yang pasti dalam beberapa bulan ini sudah terjadi lima kali kasus kecelakaan kapal tersebut. Kali ini, sebuah kapal dikabarkan hilang kontak di perairan Indramayu, Jawa Barat bagian utara.

Sebuah kapal yang membawa cerobong untuk Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berlayar menuju Pelabuhan Batang, Jawa Tengah. Sebelum sampai dipelabuhan tersebut, kapal jenis Tug Boat bernama Bg Yamani II itu dinyatakan hilang kontak. Kepala Basarnas Jawa Barat Riyadi melalui Koordinator Humas Joshua Banjanahor membenarkan adanya kabar tersebut. Joshua mengatakan jika kapal tersebut berlayar sejak 30 Juni 2018 dari Pelabuhan Bojanegara menuju Pelabuhan Batang. Namun, pada 4 Juli lalu, kapal dinyatakan hilang kontak saat berada di perairan Indramayu. "Iya benar. Ada sembilan orang anak buah kapal (ABK) dalam kapal itu," kata Joshua, Sabtu (7/7/2018).

Namun, hingga saat ini Kantor SAR Bandung terus berkoordinasi dengan instansi terkait lainnya soal keberadaan kapal tersebut. "Info terakhir kondisinya baik, namun komunikasi terputus. Kita masih memantau. Harapannya selamat. Terakhir infonya kecepatan kapal itu 3 knot (5,556 km/jam) sampai 3.5 knot (6,482 km/jam)," katanya.

Menurutnya, hasil koordinasi dengan pihak UPP Indramayu menyatakan jika kapal tersebut sudah melanjutkan perjalanannya menuju Pelabuhan Batang. Namun, keterangan berbeda pun didapatnya yang disampaikan oleh PLTU Sumur Adem. Hasil koordinasi dengan pihak PLTU menyatakan ada beberapa kapal jenis Tug Boat lain yang diarahkan untuk bersandar ke PLTU Sumur Adem. "Karena cuaca buruk kapal diimbau bersandar di PLTU Sumur Adem. Kita sedang cross chek keberadaan kapal itu, apakah ikut bersandar atau tidak. Sementara, hasil koordinasi dengan Pertamina Balongan, kapal itu belum bisa dihubungi," kata Joshua.

Ia juga menambahkan jika akhir-akhir ini kecelakaan kapal tengah marak terjadi. Untuk itu, pihaknya pun mengimbau kepada pemilik kapal dan seluruh pengguna transporatsi khususnya transportasi perairan untuk lebih meningkatkan keselamatannya. "Kita imbau agar lebih memperhatikan ketersediaan alat keselamatan dari life jacket, sekoci, hingga mengecek alat komunikasinya. Tujuannya untuk mengurangi resiko jatuhnya korban dalam kecelakaan," ujar Joshua.