JAKARTA – Indikasi genosida yang terjadi di negara bagian Rakhine, wilayah yang selama ini menjadi pusat krisis kemanusiaan terhadap etnis minoritas Rohingya, menurut Duta Besar Indonesia untuk Myanmar, Ito Sumardi, tidak terlihat. Pernyataan itu tentu berbeda dengan beberapa pernyataan dari sumber di PBB dan beberapa organisasi internasional lainnya. 

"Salah satu indikasi genosida itu ditemukannya kuburan massal. Saat kunjungan diplomatik kemarin sejumlah dubes, termasuk saya, dibawa ke Rakhine dan kami melihat memang ada kuburan tapi itu kuburan warga biasa, bukan kuburan massal," ujar Ito di sela-sela rapat Kepala Perwakilan RI di Kementerian Luar Negeri RI, Jakarta, Selasa (13/2/2018).

"Salah satu rekan saya, Dubes Singapura untuk Myanmar, juga mengatakan hal yang sama. Beliau bahkan merupakan mantan orang Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan cukup keras soal ini mengatakan tidak ada indikasi kuburan massal di Rakhine, hanya kuburan biasa," lanjutnya.

Ito membandingkan pengalamannya kala menjadi komandan Kontingen Garuda di Bosnia Herzegovina, salah satu negara di tenggara Eropa yang sempat dilanda tragedi genosida sekitar awal tahun 1990 lalu. Tragedi itu tercatat menewaskan 100 ribu warga Bosnia yang bermayoritaskan Muslim dan warga Kroasia.

Saat itu, kata Ito, misi kelompoknya adalah membuktikan kalau telah terjadi pembantaian massal yang sistematis. "Salah satunya kami menemukan kuburan massal sebanyak 4 ribu warga Bosnia," katanya. Meskipun demikian, Ito tidak ingin mengatakan kalau tidak ada tragedi kemanusiaan yang terjadi di Rakhine hingga memicu gelombang sedikitnya 700 ribu warga Rohingya mengungsi ke Bangladesh sejak Agustus lalu.

Ito menuturkan perlu ada pemeriksaan yang benar-benar independen perihal krisis kemanusiaan yang berlangsung di Rakhine dan verifikasi perihal dugaan pelanggaran HAM yang terjadi selama ini. Lebih lanjut, Ito menyampaikan kunjungan terakhirnya ke Rakhine adalah 9 Februari 2018. Saat itu, Ito melihat ratusan tempat penampungan serta rumah tinggal baru sudah dibangun untuk menampung ratusan ribu pengungsi Rohingya yang rencananya akan direpatriasi (proses pemulangan ke negara asal) dari Bangladesh dalam waktu dekat.

"Ratusan shelter itu dibangun atas bantuan internasional juga seperti Uni Eropa dan negara lain. Indonesia belakangan diminta Myanmar membangun rumah sakit dan sekolah. Ini merupakan salah satu upaya Indonesia untuk berkontribusi membantu proses repatriasi," kata Ito.