CARACAS – Presiden Venezuela Nicolas Maduro mengakui, majelis konstituen yang didominasi partai sosialis sebagai institusi paling kuat di negara itu pada Kamis (10/8/2017). Pernyataan ini diungkapkan saat ia muncul untuk pertama kali di badan legislatif yang diresmikan enam hari lalu meski menuai banyak kritikan.

“Sebagai kepala negara, saya menundukan diri pada kekuatan majelis konstituen dan saya datang untuk memperkenalkan kekuatan yang kuasa, berdaulat, orisinil dan megah,” katanya saat berpidato.

Pada pemilu baru-baru ini untuk majelis yang beranggotakan 545 orang, telah mendapatkan kecaman dunia internasional dikarenakan telah merebut otoritas kongres yang dikuasai oleh pihak posisi Venezuela. Kritikus mengatakan bahwa pemilihan tersebut menyingkirkan setiap pemeriksa yang tersisa atas perintah Maduro.

Maduro mengatakan bahwa majelis tersebut merupakan satu-satunya kesempatan negara tersebut untuk menjamin perdamaian dan kemakmuran setelah empat bulan dilanda kerusuhan dan demonstrasi anti-pemerintah yang menyebabkan lebih dari 120 orang tewas.

Dalam sebuah pidato yang penuh semangat dan berulang kali membuat anggota majelis berdiri untuk tepuk tangan, Maduro menyerukan kerangka tata kelola baru untuk Venezuela , yang bertujuan untuk menyempurnakan konstitusi 1999.

“Saya sepenuhnya siap melayani Anda,” kata Maduro, kepada Ketua Dewan dan pengikut setianya, Delcy Rodriguez.

Dalam sesi kerja pertamanya pada 5 Agustus, majelis tersebut mengkonfirmasi ketakutan pihak oposisi bahwa mereka akan berusaha memperkuat cengkeraman Maduro atas kekuasaan dengan menembaki kritikus utamanya di dalam koalisi sosialis yang berkuasa. Kepala jaksa Luisa Ortega, telah diperintahkan untuk diadili.

Ortega menuduh Maduro melakukan pelanggaran hak asasi manusia setelah Mahkamah Agung yang dibentuknya mulai meniadakan undang-undang yang disahkan oleh Kongres pada awal tahun ini. Kini Ortega bersembunyi, pindah dari rumah yang aman ke rumah yang aman lainnya. Ortega menyatakan kepada Reuters pada Kamis (10/8/2017) bahwa dia takut akan hidupnya setelah mendengar ancaman Maduro.

Kepala Ombudsman Hak Asasi Manusia yang pro Maduro, Tarek Saab, kini telah dipilih untuk menggantikan Ortega, Jaksa Agung, setelah diturunkan dngan tuduhan "keterlibatan dan kelambanan" dalam menghadapi pertumpahan darah selama demonstrasi berlangsung di Venezuela. Namun pihak oposisi menuduh Saab menutup mata terhadap pelanggaran pemerintah.

Pihak oposisi sendiri sudah memboikot pemilihan yang akan memilih Anggota majelis pemilihan pada 30 Juli. Mereka juga meminta pemilihan presiden yang diyakini akan membuat Maduro kalah karena telah memimpin Venezuela hingga memasuki resesi ekonomi yang parah yang disertai dengan kekurangan makanan dan obat-obatan. (agn)