BREAKINGNEWS.CO.ID - Komite Perubahan Sepak bola Nasional (KPSN) menggelar pertemuan dengan Asprov PSSI dan beberapa perwakilan liga. Pertemuan itu bertajuk Menuju Sepak bola Bersih, Berprestasi, tanpa Mafia di Hotel Bidakara, Jakarta, Rabu (9/1/2019). Salah satu peserta yang hadir yaitu Ketua Asprov PSSI Sulawesi Tenggara Sabarudin Lambaba mengatakan, tertarik memenuhi undangan lantaran tema yang digagas lebih tajam dari yang terdahulu, yang menginginkan perubahan positif di tubuh sepak bola nasional.

"Terhadap persoalan yang kita permasalahkan hari ini, masalah prestasi, sepakbola yang bersih dan anti mafia ini adalah merupakan tanggung jawab semua pihak. Kalau kita berbicara prestasi kita tidak bisa menyalahkan PSSI, karena ada banyak yang terlibat di dalamnya, komponen-komponen yang ada di dalamnya, dan ada stakeholder yang harus juga harus terlibat, dan semua," ucap Sabarudin.

Komite Perubahan Sepak bola Nasional (KPSN) menggelar pertemuan dengan Asprov PSSI
dan beberapa perwakilan liga (Foto: Robbi Yanto/Breakingnews.co.id)

Sementara itu, CEO Persijap Jepara, Esti Lestari, yang timnya kini main di Liga 3, menceritakan pengalamannya tiga tahun sebagai petinggi klub. Dia menceritakan sebelum timnya memulai kompetisi, para pemain dan manajemen membuat perjanjian agar tidak terima suap.

"Kami dulu sangat pede bakal lolos. Tapi itu bumerang. Lalu pada akhirnya kami kalah terus, sekalipun lawan tim yang di bawah kami. Terus saya tanya kepada pemain dan mereka bilang: 'saya sudah capek main buat klub ibu. Abisnya ibu enggak pernah bayar wasit. Kita dikerjain mulu'. Nah, di Liga 3 saya lebih kalem. Terus saya dibilang kalau mau lolos sudah tenang saja. Ikuti aturan main," kata dia.

Pertemuan itu bertajuk Menuju Sepak bola Bersih, Berprestasi, tanpa Mafia
(Foto: Robbi Yanto/Breakingnews.co.id)

Selanjutnya, dari pertemuan itu, muncul dua kesimpulan untuk dibawa ke Kongres PSSI pada 20 Januari 2019 yang dibacakan langsung oleh Esti yaitu:

1. Mengusulkan agar anggota komite eksekutif PSSI dan pengurus PSSI yang menjadi tersangka kasus match fixing untuk dipecat dengan tidak hormat di Kongres PSSI 2019.

2. Mendorong satuan petugas antimafia bola polri untuk memberantas secara tuntas praktek match fixing melalui penegakkan hukum yang adil tanpa pandang bulu sesuai dengan kesetaraan dalam hukum.

Dalam pertemuan yang berlangsung empat jam itu, turut hadir Asprov PSSI DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, DI Yogyakarta, Sulawesi Utara, Sumatra Barat, Kepulauan Riau, Riau, Sulawesi Tenggara, Lampung, Gorontalo, dan perwakilan klub Madura FC, Aceh United, dan Persiraja Banda Aceh.