BREAKINGNEWS.CO.ID – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengaku sangat menyesal atas kejadian kasus korupsi yang kembali melibatkan penegak hukum. Hal tersebut diungkap Wakil KPK, Basaria Penjahitan terkiat dengan penetapan tersangka kepada Hakim Pengadilan Negeri Semarang, Lasito yang diduga menerima suap dari Bupati Jepara, Ahmad Marzuqi.

“Kami sangat menyesal karena penegak hukum kembali terlibat dalam kasus korupsi, dan ini sudah terjadi berulang kali. Kami cukup sesalkan akan hal ini,” kata Basaria usai membacakan surat penetapan tersangka dalam konferensi pres bersama media di Gedung KPK pada Kamis (6/12/2018).

Dalam kasus ini, KPK telah menetapkan Lasito bersama Ahmad Marzuqi sebagai tersangka. Di mana Lasito diduga menerima uang sebesar Rp700 juta dari Bupati Jepara untuk memenangkan gugutan praperadilan yang dilayangkannya kepada Kejaksaan Tinggi Jawa Tengah (Jateng) perihal penetapan sebagai tersangka kasus dugaan korupsi dana bantuan keuangan untuk Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Kabupaten Jepara tahun 2011-2012.

Kejati Jateng menerbitkan Sprindik bernomor PRINT-840/O.3/Fd.1/06/2016, tertanggal 16 Juni 2016. Namun dalam perkembangannya, penyidik tak cukup menemukan alat bukti hingga menerbitkan Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3). Namun SP3 itu kemudian digugat praperadilan oleh Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI). Gugatan MAKI dikabulkan dan SP3 untuk Marzuqi dibatalkan.

Hakim kala itu memerintahkan penyidik untuk mendalami alat bukti yang dimaksud. Kejati Jateng pun kembali menetapkan Marzuqi sebagai tersangka dengan nomor 1092/O.3/Fd.1/07/2017 tertanggal 26 Juli 2017. Namun Marzuqi pun melayangkan permohonan praperadilan ke PN Semarang. Alhasil Hakim PN Semarang Lasito membatalkan penetapan tersangka terhadap Marzuqi tersebut.

"Diduga AM (Ahmad Marzuqi) selaku Bupati Jepara memberikan total dana Rp 700 juta yang diketahui di masukan ke dalam kantong ikan bandeng presto, sebelum diberikan kepada LAS (Lasito)" sebut Basaria,“ ucap Basaria.

Dalam kasus ini, Ahmad selaku terduga pemberi disangka melanggar Pasal 12 huruf c atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001. Sementara Lasito diduga sebagai penerima disangka melanggar Pasal 6 ayat (1) huruf a atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001.