BREAKINGNEWS.CO.ID - Pemerintah Korea Utara akan  terus mempertahankan ilmu pengetahuan serta teknologi nuklir, meskipun sudah berjanji kepada Amerika Serikat (AS) untuk melucuti seluruh senjata penghancur massalnya. Hal tersebut dikatakan oleh Menteri Luar Negeri Korut, Ri Yong Ho.

Ri menegaskan Korut akan tetap terus mempertahankan pengetahuan perihal nuklir dikarenakan menilai Amerika Serikat tidak menghentikan kebijakan bermusuhannya terhadap Pyongyang. Padahal, kedua pemimpin negara telah menyepakati perjanjian denuklirisasi dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) AS-Korut pada 12 Juni 2018 lalu di Pulau Sentosa, Singapura.

"Menghadapi Amerika itu sulit. Karena tujuan utama kami adalah pelucutan senjata secara total di Semenanjung Korea, perlu bagi Amerika juga untuk mematuhi komitmen mereka. Tapi mereka [AS] menolak untuk mematuhinya," ucap Ri di Teheran, Iran, saat melakukan kunjungan kerja seperti dikutip media lokal kantor berita Mehr, Jumat (10/8/2018).

Beberapa waktu terakhir ini, Pyongyang juga menganggap AS telah ingkar janji terhadap semangat dialog antara presiden AS, Donald Trump dan pemimpin tertinggi Korut, Kim Jong-un di Singapura dikarenakan "terus menghasut" negara lain untuk menekan Korut dengan sanksi.

Korut juga merasa tersinggung dengan sikap Menteri Luar Negeri Mike Pompeo yang mendesak negara-negara untuk terus menekan Pyongyang sampai proses denuklirisasi berjalan sepenuhnya dalam forum Asosiasi Negara Asia Tenggara (ASEAN) di Singapura pada pekan lalu.

Pernyataan Ri tersebut diutarakan saat dia bertemu ketua parlemen Iran yang cukup berpengaruh, Ali Larijani, di hari ketiga lawatannya di negara Timur Tengah tersebut.

Dalam kesempatan itu, Larijani mengaku setuju dengan penilaian Ri terkait sikap Amerika. "AS kerap mengeluarkan kata-kata indah saat bernegosiasi dan menjanjikan masa depan yang sangat cerah tapi ketika beraksi, mereka tidak mau memenuhi komitmen dan janji mereka," katanya seperti dikutip AFP.

Iran dan Korut selama ini menjadi salah satu negara yang dianggap 'nakal' oleh Amerika Serikat, sekaligus menjadi ancaman terbesar keamanan nasional AS. Salah satunya karena memiliki senjata nuklir.

Meskipun demikian, relasi antara AS-Korut berangsur mereda sejak awal tahun ini, terutama setelah Trump dan Kim Jong-un sepakat bertemu untuk pertam akalinya dalam sejarah.

Di sisi lain, hubungan Washington-Teheran disebut tengah berada di titik terendah selama beberapa bulan terakhir khususnya setelah Trump menarik AS keluar dari perjanjian nuklir dengan Iran yang disepakati 2015 lalu.

Ketegangan kedua negara semakin memanas ketika Gedung Putih menjatuhkan kembali serangkaian sanksi yang pernah dicabut AS di bawah kesepakatan nuklir tersebut terhadap Iran pada awal pekan ini.