BREAKINGNEWS.CO.ID – Pertemuan antara Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan pemimpin tertinggi Korea Utara (Korut) Kim Jong-un di Hanoi, Vietnam, beberapa pekan lalu tidak membuahkan hasil yang memuaskan. Bukannya merencanakan pertemuan lanjutan, Korut justru akan memikirkan kemungkinan pembatalan dialog terkait nuklir kecuali apabila Gedung Putih membuat konsesi (pemberian hak, izin, atau tanah oleh pemerintah, perusahaan, individu, atau entitas legal lain).

Dalam pernyataannya pada Jumat (15/3/2019) waktu setempat, Wakil Menteri Luar Negeri Korea Utara, Choe Son Hui menyalahkan para staf senior AS untuk kegagalan negosiasi akhir bulan lalu tersebut. "Kami tidak punya keinginan untuk menyerah pada permintaan AS dalam bentuk apapun, kami juga tidak mau terlibat dalam negosiasi semacam ini," ujar Choe dikutip dari Reuters, Jumat (15/3).

Dirinya menuturkan Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo dan Penasihat Keamanan Nasional, John Bolton menciptakan suasana tidak bersahabat dan rasa tak percaya sehingga ini merusak usaha konstruktif untuk negosiasi antara dua pemimpin besar Korea Utara dan AS. Choe menambahkan, Kim saat ini bersiap untuk membuat pengumuman resmi terkait demiliterisasi dengan AS dan tindakan yang akan diambil Korea Utara berikutnya.

Ia juga menganggap AS sudah membuang kesempatan emas saat pertemuan di Hanoi. Ia memperingatkan bahwa Kim akan memikirkan kembali moratorium peluncuran rudal dan uji coba nuklir. "Saya ingin memperjelas bahwa preman-preman AS itu perlahan akan membahayakan situasi. (Namun) relasi personal antara dua pemimpin masih baik dan hubungannya menakjubkan," imbuhnya.

Menanggapi komentar Choe, pihak Korea Selatan menilai masih terlalu dini untuk menyimpulkan makna perkataan Choe. "Kami tidak bisa menilai situasi saat ini hanya berdasar pada pernyataan Wakil Menteri Luar Negeri Choe Son Hui. Kami mengawasi situasi dari dekat. Dalam situasi apapun, pemerintahan kami akan berusaha keras untuk memulai kembali negosiasi antara Korea Utara dan AS," kata pihak Istana Kepresidenan Korea Selatan dalam sebuah pernyataan.

Masih ada harapan

Choe mungkin mengatakan bahwa Kim kemungkinan kehilangan komitmen untuk mencapai kesepakatan dengan AS. Akan tetapi, AS masih punya harapan untuk sebuah pertemuan baru. Perwakilan AS untuk Korea Utara, Stephen Biegun mengatakan bahwa pihak AS ingin bisa melanjutkan pendekatan dengan Korea Utara. "Diplomasi masih sangat hidup," kata Biegun pada Senin lalu.

Sedangkan minggu lalu, Bolton sempat berkata bahwa Trump membuka kesempatan bicara tetapi juga memperingatkan untuk sanksi yang lebih tegas jika Kim tidak melakukan denuklirisasi. Di sisi lain, Perdana Menteri Cina Li Keqiang mengingatkan agar semua pihak bersabar dan tetap melanjutkan dialog.

"Masalah di Semenanjung bisa dikatakan rumit dan perlu waktu untuk dipahami, dan itu tidak bisa diatasi dalam semalam," kata Li. Sementara itu, pada Jumat pagi juru bicara Kementerian Unifikasi Korea Selatan mengatakan bahwa pertemuan mingguan intra Korea dijadwalkan di Kaesong, Korea Utara. Namun, pertemuan ini dibatalkan setelah pihak Korea Utara berkata mereka tidak akan mengirim staf seniornya. Pihak Korea Utara pun tidak memberikan konfirmasi alasan mereka memutuskan tidak hadir.