BREAKINGNEWS.CO.ID – Kelompok usaha Korindo Group berharap pemerintah menyatukan suara dan langkah para pemangku kebijakan sawit tanah air dari serangan LSM dan pihak asing dengan pemberitaan yang kerap memutar balik fakta. Hal tersebut perlu dilakukan karena kampanye hitam yang terus-menerus dilakukan secara langsung mengganggu aktifitas usaha industri sawit tanah air secara umum.

“Kami  berharap pemerintah  bersama-sama menciptakan inisiatif baru membantu perusahaan dan para pihak yang terkena dampak oleh kampanye negatif dari LSM internasional, yang menuduh sawit telah melanggar aturan,”imbau Luwy Leunufna Manager Divisi ESG Korindo saat berbicara kepada media di Jakarta, Senin (9/9/2019).

“Sementara respon  perusahaan sawit di Indonesia lebih sering  dilakukan secara parsial dan berjuang  berjuang sendiri-sendiri, menghadapi seranhan tersebut.

Padahal, sebagai salah satu perusahaan industri perkebunan kelapa sawit,  Korindo Group menegaskan bahwa  seluruh operasional yang dijalankan oleh unit-unit usahanya, tak terkecuali divisi perkebunan kelapa sawit sudah berpedoman pada ketentuan hukum dan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia. “Perusahaan juga telah memperhatikan hak-hak masyarakat setempat, tidak seperti yang dikampanyekan mereka itu,”tegasnya..

Namun dalam perjalanan bisnis usahanya, Korindo Group kerap mendapat perhatian yang berlebihan dari beberapa LSM, salah satunya adalah Mighty Earth asal Amerika dan juga beberapa LSM lainnya. Bentuk perhatian yang berlebihan. Ini tak lain adalah bentuk dan upaya mencari-cari kesalahan perusahaan. “Kami mengakui ada kekurangan dan ada yang tak sesuai kenyataan, namu sebagai sebuah korporasi, kami terbuka terhadap masukan yang ada guna agar tercapai kesempurnaan,”tegasnya lagi.

Perlu ditegaskan bahwasanya secara bisnis, sampai dengan saat ini Korindo masih tercatat sebagai anggota Forest Stewardship Council (FSC) untuk bidang kehutanan. Sedangkan dalam bidang usaha perkebunan kelapa sawit. Anak usaha  yang tergabung  dalam Korindo Grup telah memiliki sertifikat ISPO dari pemerintah Indonesia sebagai bukti bahwa pengelolaan perkebunan sawit Korindo Group dilakukan secara lestari dan berkelanjutan.

Luwy Leunufna  juga menjelaskan, kepada pemerintah dan kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup pun  sudah menghadap, “dan audit investigative mereka terhadap tuduhan yang pernah dilayangkan oleh sebuah perusahaan Spanyol juga tak terbukti,”tegasnya lagi.

Namun beragam tuduhan serupa kembali muncul dan ini membuat mereka seperti diombang-ambing tanpa kepastian hukum.”jadi kami dari perusahaan meminta pemerintah turun tangan, agar ada kepastian hukum dalam berusaha di Indonesia,”tutupnya.

 Terkait kontribusi kepada masyarakat, berbagai program CSR yang telah dilakukan oleh Korindo Group meliputi pembangunan, pengelolaan, dan pendanaan klinik modern bernama Klinik Asiki (terpilih menjadi klinik pratama terbaik tingkatnasional tahun 2019 oleh Badan Penyelenggara  Jaminan Sosial Kesehatan/BPJS Kesehatan), pemeriksaan medis secara gratis di 19 klinik, pengadaan ambulans darat dan air, pembangunan 28 sekolah dan pengadaan bis sekolah,  pembangunan 66 masjid/gereja, pembayaran insentif untuk 200 guru, pembangunan infrastruktur seperti listrik gratis dan jalan, serta pendidikan kewirausahaan seperti program  ternak ayam dan budi daya tanaman sayur.

Korindo Group juga aktif memberikan bantuan-bantuan kepada para korban bencana di Indonesia seperti bantuan senilai Rp 7 miliar kepada korban gempa bumi di Palu, bantuan air bersih, pengerahan transportasi dan alat-alat berat untuk distribusi logistik dan pembukaan akses jalan pasca gempa di Maluku Utara, bantuan logistik untuk korban gempa tsunami di  Banten, banjir bandang di Jayapura dan di lokasi-lokasi bencana lainnya.

Dengan niat yang tulus, Korindo Group ingin membina hubungan yang konstruktif dan kolaboratif dengan para pemangku kepentingan agar keinginan untuk turut membangun Indonesia, terutama daerah-daerah kategori 3T (Terdepan, Terluar, dan Tertinggal) dapat terlaksana.