JAKARTA - Kasus indikasi korupsi pada underpass jalur perimeter selatan Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten yang longsor 5 Februari 2018 terus bergulir disidik polisi. Polisi sudah berkoordinasi menyampaikan dugaan awal adanya korupsi pada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap kasus yang kini tengah ditangani.

Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya Kombes Pol Adi Deriyan mengungkap tim utama dalam penanganan perkara itu adalah penyidik dari Bareskrim Mabes Polri meski kasus dilimpahkan ke Polda Metro Jaya dari Polres Kota Bandara Soekarno-Hatta. "Proses berjalan terus. Kan, leading sectornya didukung teman-teman Bareskrim. Mungkin nanti setelah sudah menempatkan wujudnya, informasinya baru nanti disampaikan ke kami," kata Adi menjawab wartawan Selasa (13/3/018).

Sayangnya Adi tak bersedia lebuh jauh membeberkan sudah sejauh mana hasil penyelidikan yang tengah ditangani dalam kasus ambrolnya underpass jalur perimeter selatan pada Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, itu. Meski melapor ke KPK, ia mengatakan kalau KPK tidak terlibat dalam kasus ini. Kasus ini disebutnya sifatnya hanya pemberitahuan.

"Intinya masih dalam tahap penyelidikan, masih dengan teman-teman Bareskrim. Enggak ada KPK. Tapi kita laporan ke KPK," terangnya. Seperti diberitakan, pada pukul 18.00 WIB, Senin, 5 Februari 2018 longsor terjadi di underpass Perimeter Selatan, Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang tepatnya di jalur exit bandara.

Ambruknya tembok underpass bahkan berdampak pada penghentian sementara operasi kereta Bandara Soekarno-Hatta karena titik longsor dan jalur rel hanya terpaut lima meter. Dalam peristiwa tersebut dua karyawan GMF Bandara Soekarno-Hatta yakni Dyanti Putri yang meninggal dunia pukul 07.00 WIB usai terperangkap 9 jam dalam mobil yang terjebak reruntuhan dan Mukhmainah yang mendapatkan perawatan di rumah sakit setelah 12 jam terperangkap bersama Dyanti Putri.