BREAKINGNEWS.CO.ID -   Indeks harga saham gabungan (IHSG) pada akhir pekan ditutup melemah karena dipicu kontraksi data manufaktur domestik yang dilansir oleh Badan Pusat Statistik atau BPS. Indeks di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada penutupan perdagangan Jumat (1/11/2019) ini,  melemah 21,13 poin ke posisi posisi 6.207,19, atau turun  0,34 persen.

Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 bergerak turun 4,76 poin atau 0,48 persen menjadi 980,09. "Faktor utama pelemahan indeks ialah bahwasanya market telah mengetahui bahwa data Markit Manufacturing PMI Indonesia per Oktober yang mengalami penurunan di angka 47,7 dari 49,1, menandakan bahwa sektor manufaktur di tanah air semakin mengalami kontraksi. Sedangkan untuk data inflasi domestik masih menunjukkan tren yang stabil," kata analis Binaartha Sekuritas M Nafan Aji Gusta.

Dibuka melemah, IHSG menghabiskan waktu sepanjang hari di zona merah hingga penutupan bursa saham.

Penutupan IHSG sendiri diiringi aksi jual saham oleh investor asing yang ditunjukkan dengan jumlah jual asing bersih atau "net foreign sell" sebesar Rp215,87 miliar.

Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 580.645 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 18,81 miliar lembar saham senilai Rp9,14 triliun. Sebanyak 135 saham naik, 299 saham menurun, dan 128 saham tidak bergerak nilainya.

Sementara itu, bursa saham regional Asia antara lain indeks Nikkei melemah 76,2 poin atau 0,33 persen ke 22.850,8, indeks Hang Seng menguat 194,1 poin atau 0,72 persen ke 27.100,8, dan indeks Straits Times melemah 0,45 poin atau 0,01 persen ke posisi 3.229,43.

Sebelumnya,  Badan Pusat Statistik ( BPS)  dalam rilis bulanannya mengatakan bahwa  produksi industri manufaktur besar di kuartal III-2019  melambat dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Data BPS menunjukkan, produksi manufaktur tumbuh hingga 5,04 persen di kuartal III-2018 sementara pada kuartal III-2017 pertumbuhan produksi manufaktur naik hingga 5,46 persen. "Kenaikan (kuartal III-2019) tersebut didorong oleh naiknya produksi industri percetakan dan reproduksi media rekaman yang naik 19,59 persen," ujar Kepala BPS Suhariyanto.

Sementara itu faktor yang membuat pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang melambat karena anjloknya produksi industri barang logam, bukan mesin dan peralatannya yang mencapai 22,95 persen.

Adapun jika dihitung secara kuartalan, produksi industri manufaktur besar dan sedang di kuartal III-2019 naik sebesar 5,13 persen terhada kuartal II-2019. Industri yang mengalami kenaikan produksi tertinggi adalah industri barang galian bukan logam sebesar 14,15 persen. Adapun untuk industri yang mengalami penurunan terbesar adalah industri pengolahan tembakau yang turun 13 persen. Sementara itu di tingkat provinsi, pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang tertinggi di kuartal III-2019 adalah Sulawesi Tenggara yang naik 23,56 persen. Sementara provinsi yang mengalami penurunan pertumbuhan produksi adalah Jambi yang turun 47,2 persen.