JAKARTA – Perfilman tanah air kembali menyajikan karya terbaiknya. Kali ini film yang diangkat dari kisah nyata perjuangan hidup putra Tarakan, Kalimantan Utara yang kini menjadi pengusaha sekaligus motivator sukses, Onggy Hianata berjudul Terbang: Menembus Langit siap dirilis pada 19 April 2018.

Film ini menceritakan secara detail juga dramatis bagaimana perjuangan Onggy, seorang warga negara Indonesia keturunan Tionghoa dalam bertahan hidup di tengah gempuran diskriminasi saat itu. Selain itu juga Onggy ditampilkan sebagai sosok yang gigih dalam menekuni pekerjaannya meski berulang kali ditempa kegagalan dan nyaris membuatnya kehilangan orang yang di cintai hingga akhirnya bisa meraih kesuksesan menjadi pebisnis di Singapura.

Film arahan sutradara Fajar Nugros dan di produseri Susanti Dewi ini turut menggandeng sederet artis-artis papan atas, seperti Dion Wiyoko, Laura Basuki, Baim Wong, Delon Thamrin, Chew Kin Wah, Aline Adita, Melisa Karim, Dinda Hauw, Marcel Darwin hingga Dayu Wijanto serta melibatkan para komika Tanah Air, seperti Indra Jegel, Fajar Nugra, Mamat Alkatiri, dan Erick Estrada.

“Film ini kita pilih diangkat ke layar lebar karena saya pikir dan ibu produser Susanti Dewi, Indonesia membutuhkan contoh kisah kerja keras dari banyaknya suku dan agama yang ada di Indonesia kita butuh semacam film hiburan yang sekaligus bisa mencontoh bahwa jika ingin bekerja keras, kita bisa meraih apapun di negeri ini bagi siapapun juga. Itu yang penting buat saya mengapa kisah ini diangkat ke layar lebar“, ujar Fajar Nugros saat press conference di Lippo Mall Kemang, Jakarta, Senin (16/4/2018).

Film Terbang Menembus Langit mengambil latar waktu pada era '70-an hingga tahun 1998 yang mengambil lokasi di Jakara, Tarakan dan Surabaya. Seperti dikatakan sang produser saat press conference dan press conference film tersebut di Kemang, Jakarta hari ini. Bahwa pengambilan lokasi shooting yang terbilang cukup terpencil dan jauh yakni di Tarakan, Kalimantan Utara.

“Pembuatan film ini jadi pengalaman terbaik dari Demi Istri Production, karena ini film pertama yang pernah kita buat, lalu dipilihnya tempat lokasi shooting karena kita belum pernah ke Tarakan, ini menjadi tantangan buat kita ke Tarakan karena sangat jauh, aku sadar karena Indonesia sangat luas banget” ujar Susanti Dewi.

Menariknya selama proses casting untuk mencari talent lokal tim dari Demi Istri Production untuk minggu pertama justru dicuekin oleh masyarakat Tarakan. Bahkan mereka dianggap hanya ingin menipu. Namun berkat kerjasama tim dengan media setempat proses casting hingga proses shooting berjalan baik.

“Menariknya pada saat tahun lalu pada saat tim casting kesana mencari talent-talent lokal ini rencananya, ternyata mereka di seminggu pertama itu dicuekin. Karena ternyata Tarakan belum pernah menjadi lokasi shooting film apapun. Jadi dengan begitu istilah casting dan lainnya itu tidak familiar dengan mereka. Datang ke sekolah, apa segala macem gitu mungkin dicuekin. Mungkin dikiranya kita mau nipu atau apa. Setelah kita kerjasama dengan rekan-rekan media setempat dan apa segala macem baru mereka teryakini dan akhirnya mereka baru dateng ke casting kita, dan akhirnya kita menemukan talenta-talenta baru ini”, tambah Susanti Dewi.

“Pengalaman menarik lainnya warga Tarakan sangat antusias menerima kita yang ratusan orang datang ke Tarakan. Jadinya proses pembuatan shooting film terbang ini menjadi salah satu hiburan yang ditonton oleh warga Tarakan pada Agustus lalu. Jadi mereka tiap hari dateng ke lokasi dari pagi sampai malem. Bener-bener sama seperti callingan shooting kita, dari pagi mereka udah ada sampai melem mereka nungguin kita shooting dan mengikuti proses shooting kita”, tutup Susanti.