BREAKINGNEWS.CO.ID- Ketua DPR RI, Bambang Soesatyo angkat bicara terkait hasil evaluasi Perum Bulog yang menemukan 200 ribu ton beras kualitas rendah yang tersimpan selama 1,5 tahun di gudang untuk dijual kembali oleh oknum bulog dan mafia beras dengan mencampur beras lokal. Bambang juga meminta Komisi IV DPR mendorong Perum Bulog untuk segera mengeluarkan beras tersebut (disposal) dari gudang serta melakukan negosiasi dengan Gabungan Perusahaan Makanan Ternak untuk memanfaatkan beras tersebut menjadi pakan ternak. 
 
Selain itu Bambang Soesatyo meminta Komisi IV DPR mendorong Perum Bulog untuk melakukan kajian sebelum melakukan disposal terhadap cadangan beras pemerintah (CBP) yang berusia lebih dari empat bulan. "Terutama terkait pengolahan beras yang sudah didisposal dan beras berusia lebih dari empat bulan yang sudah didistribusikan ke pasar," ujar Bambang di Jakarta, Kamis (28/6/2018). 
 
Selanjutnya Bambang meminta Komisi III DPR dan Komisi IV DPR mendorong Perum Bulog dan Kepolisian RI melalui Satgas Pangan untuk meningkatkan pengawasan agar kondisi beras tersebut tidak dijadikan sebagai program beras sejahtera (rastra). "Serta menindak tegas Oknum Bulog dan mengusut jaringan mafia beras yang bekerja sama dengan Oknum Bulog untuk menjual beras miskin kualitas rendah," tegasnya. 
 
Selain itu Bambang meminta Komisi IV DPR mendorong Kementerian Pertanian (Kementan) dan Perum Bulog untuk melakukan penyerapan gabah petani secara maksimal mengingat pada semester pertama realisasi penyerapan gabah petani baru mencapai 33,3% dari target penyerapan beras 2018. 
 
Sebelumnya, Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso (Buwas) mengaku menemukan 200 ribu ton beras dengan kualitas rendah di gudang Bulog. Beras-beras tersebut menurun kualitasnya karena terlalu lama disimpan.
 
Buwas menjelaskan, beras berkualitas rendah tersebut seharusnya dimusnahkan dengan cara disposal atau dikeluarkan dari gudang dan dijual untuk pakan ternak. Namun, beras tersebut malah dijual oleh oknum Bulog bekerja sama dengan mafia yang mencampurnya dengan beras lokal dan dijual mahal. Praktik ini merugikan masyarakat.
 
“Mereka menimbun kalau beras tidak mau mengeluarkan dia bekerja sama dengan oknum di Bulog beras di Bulog dicampur dengan beras lokal dan jadi kemasan dan dijual dengan harga mahal. Beras medium dijual jadi premium terus dengan teknologi dan cara macam-macam lah,” katanya di Kementerian Sosial, Jakarta, Selasa (26/6/2018).
 
Menghindari kondisi tersebut terulang, Buwas mengaku akan memperketat pengawasan untuk disposal. Harapannya, oknum pegawai bulog tak bisa bermain-main lagi dengan stok raskin dan menjualnya ke mafia. Disposal akan dilakukan ketat setiap 4 bulan sekali.
 
“Sehingga beras yang sudah tidak layak atau nilainya turun akan kita disposal dan akan kita ganti lebih berkualitas. Maksimal beras yang ada di Bulog lama 4 bulan. Lebih dari itu akan dikeluarkan dari gudang Bulog bisa jadi untuk pakan ternak,” sambungnya.