BREAKINGNEWS.CO.ID- Ketua DPR RI, Bambang Soesatyo meminta Pemerintah agar musibah gempa Lombok untuk segera ditetapkan sebagai bencana nasional. Diketahui, gempa susulan dengan magnitudo sebesar 6,2 skala ritcher kembali guncang Lombok pada Kamis (9/8/2018) lalu. Namun belum dilaporkan secara pasti, tentang kerugian dan korban akibat gempa terakhir ini. 
 
Bambang pun mendorong Komisi VIII DPR meminta Kementerian Sosial (Kemensos), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) bersama Pemerintah Daerah setempat untuk selalu tetap waspada dan memperhatikan informasi dari BMKG dalam rangka menghadapi gempa susulan. "Agar masyarakat tetap siaga terhadap kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi," ujar Bambang di Jakarta, Sabtu (11/8/2018). 
 
Bambang juga mendorong Komisi VIII DPR meminta Kementerian Sosial (Kemensos) sebagai yang memobilisasi bantuan terhadap korban gempa agar tepat sasaran dengan memperhatikan informasi dan data yang sudah diverifikasi oleh BPBD. 
 
 "Seperti 259 korban meninggal dunia, 1.033 luka berat, 270.168 orang mengungsi, serta beberapa bangunan yang rusak yaitu 67.857 unit rumah, 468 sekolah, 6 jembatan, 3 rumah sakit, 10 puskesmas, 15 masjid, 50 unit musala, dan 20 unit perkantoran," tuturnya. 
 
Selanjutnya Bambang mendorong Komisi III DPR meminta Kepolisian RI untuk tetap siaga dalam menjaga ketertiban dan keamanan terhadap pihak-pihak yang memanfaatkan situasi di Lombok, agar dapat memberikan rasa aman bagi masyarakat yang terdampak musibah.
 
Selain itu Bambang mendorong Komisi V DPR meminta Badan Meteorologi, Geofisika, dan Klimatologi (BMKG) untuk terus menyampaikan informasi berkaitan dengan situasi dan kondisi cuaca maupun kondisi struktur geologi sesar naik flores (Flores Back Arc Thrusting) sebagai pemicu gempa di Lombok. 
 
"Mengimbau masyarakat yang berada di daerah Lombok Utara dan sekitarnya untuk tetap waspada terhadap gempa susulan, serta melakukan evakuasi dengan mencari tempat terbuka dan jauh dari bangunan tinggi," pungkasnya.