BREAKINGNEWS.CO.ID - Kesultanan Deli menyesalkan penghancuran situs bersejarah budaya Melayu, Benteng Puteri Hijau yang berada di Deli Tua, Kabupaten Deliserdang, Sumatera Utara.

Juru bicara Kesultanan Deli, Prof.Dr. OK.Saidin gelar Datuk Seri Amar Lela Cendekia di Medan, Sabtu, mengatakan sebagai bagian Wilayah Keadatan Kesultanan Deli yang memiliki pertalian kultural dengan situs ini,  pihaknya mengutuk tindakan penghancuran tersebut.

Penghancuran tersebut menjadi bukti bahwa  Pemkab Deliserdang tidak serius memaknai sejarah. Hal itu, lanjut dia, tidak saja menyakitkan hati dan mengusik simbol peradaban Puak Melayu, tetapi  juga merupakan pelanggaran hukum karena mencoba untuk menghilangkan situs budaya. "Ini penghilangan atas sesuatu yang sangat berharga bagi Sejarah Kesultanan Deli. Upaya penghilangan memori historis yang menggiring generasi muda ke depan lupa akan sejarah bangsanya sendiri," jelasnya.

Untuk itu pihaknya meminta agar aparat penegak hukum mengusut tuntas termasuk aspek pidana seputar terbitnya izin terkait perusakan situs bersejarah tersebut.

Sebelumnya, heboh penghancuran situs sejarah dan budaya tersebut terjadi menyusul aktifitas buldoser di lokasi yang masuk cagar budaya itu.  Meski akhirnya dihentikan, namun kehancuran sejumlah titik lokasi bersejarah itu tak pelak juga terjadi.

"Setelah diributkan di berbagai media sosial dan media cetak, menjalar ke berbagai group WA dalam 1-2 hari ini, tekanan itu pun menyebabkan pembuldozeran situs Cagar Budaya Benteng Puteri Hijau ini dihentikan sementara. Beberapa plang/papan informasi yang menegaskan lokasi ini cagar budaya, kemarin dipasang," kata sejarawan Ichwan Azhari,  Jumat (19/10/2018).

Meski sudah dihentikan harus ada kepastian perusakan itu tidak terjadi lagi. Sampai berapa lama tekanan ini berfungsi dan siapa bisa memastikan buldozer tidak datang lagi. "Diperlukan pengawalan berbagai elemen agar sisa benteng yang tinggal sekitar 30-40 persen lagi ini bisa diselamatkan. Situs ini bukan hanya penting bagi memori sejarah budaya Melayu, Karo dan Aceh, tapi jejak manusia prasejarah juga ditemukan di sini," Ichwan.

Ditambahkannya, bahkan kapak beliung/kapak persegi satu satunya di Sumatera baru pertama ditemukan di sini. Bukti bukti temuan arkrologisnya ada di Museum Deli Serdang, Balai Arkeologi Sumut dan Museum Situs Kota Cina Medan. "Ataukah kita biarkan situs ini punah sama sekali sebelum sempat diteliti, punah sebagai salah satu warisan dunia yang langka dan mengagumkan?" tanya Ichwan.