JAKARTA - Terdapat banyak pengertian tentang ejakulasi dini yang sempat diyakini oleh beberapa pakar, dengan dasar yang berlainan. Pertama, ejakulasi dini bermakna tidak bisa menahan ejakulasi dalam waktu tertentu. Kedua, ejakulasi dini adalah ketidakmampuan mengontrol ejakulasi hingga pasangannya menjangkau tingkat orgasme, dengan syarat tidak ada masalah seksual di pihak perempuan. Ketiga, ejakulasi dini bermakna tidak dapat mengontrol ejakulasi sesuai dengan keinginan.

Dari ketiga pengertian itu nampaknya pengertian kedua dan ketiga masih banyak diyakini, sementara pengertian pertama yang berdasarkan waktu telah ditinggalkan. Namun yang pasti, ejakulasi dini adalah gangguan fungsi seksual pria yang banyak dijumpai, di samping disfungsi ereksi.

Ejakulasi dini dikelompokkan menjadi tiga jenis berdasarkan pada berat ringannya kejadian. Pertama, ejakulasi dini berat yang berarti ejakulasi terjadi sebelum hubungan seksual berlangsung. Kedua, ejakulasi dini sedang, berarti ejakulasi langsung terjadi setelah penis masuk ke vagina. Ketiga, ejakulasi dini ringan, yaitu ejakulasi yang terjadi setelah hubungan seksual berlangsung beberapa saat.

Berat ringannya ejakulasi dini tampaknya tidak banyak berpengaruh bagi keharmonisan hubungan seksual. Pada umumnya pria dengan ejakulasi dini, apa pun jenisnya, sama saja merasa hubungan seksualnya tidak memuaskan. Di pihak lain, pasangannya pada umumnya juga tidak merasa puas.

Eakulasi dini tidak berhubungan dengan kesuburan. Artinya walaupun mengalami ejakulasi dini, tidak berarti kesuburannya terganggu. Kenyataan ini berlawanan dengan informasi yang salah yang diterima masyarakat luas. Sampai saat ini masyarakat menerima informasi yang salah dari sumber yang tidak benar, yang menyatakan bahwa pria dengan ejakulasi dini berarti kesuburannya terganggu.

Lain halnya kalau ejakulasi dininya berat, sehingga ejakulasi terjadi di luar vagina. Dalam keadaan begini, tentu saja kehamilan tidak mungkin terjadi.
Tetapi tentu faktor lain juga ikut menentukan terjadinya kehamilan. Paling sedikit ada tiga faktor yang menentukan terjadinya kehamilan. Pertama, keadaan kesuburan suami dan isteri. Kedua, keadaan sistem reproduksi. Ketiga, waktu melakukan hubungan seksual.
Kesuburan suami dan isteri harus normal agar kehamilan terjadi. Sistem reproduksi suami dan istri harus normal, sehingga tidak terjadi hambatan bagi spermatozoa dan sel telur untuk bertemu. Waktu melakukan hubungan seksual harus tepat pada saat subur. Di luar saat subur tidak mungkin terjadi kehamilan.

Dengan penjelasan ini, jelaslah bahwa ejakulasi dini tidak berkaitan dengan kualitas dan kuantitas sperma, sehingga tidak mempengaruhi terjadinya kehamilan.

Kalau ternyata terjadi gangguan kesuburan pada diri pria, itu pasti tidak ada hubungan dengan ejakulasi dini. Banyak penyebab yang dapat mengakibatkan gangguan kesuburan, baik pada pria maupun wanita.
Ejakulasi dini dapat disebabkan oleh tiga hal, yaitu:
1) kebiasaan ingin mencapai ejakulasi dengan tergesa-gesa,
2) kurang berfungsinya serotonin di dalam darah,
3) gangguan syaraf yang mengatur ejakulasi.

Kebiasaan mencapai ejakulasi secara terburu-buru bisa terjadi jauh sebelumnya ketika melakukan masturbasi atau melakukan hubungan seksual dalam keadaan tidak tenang. Kurang berfungsinya serotonin mengakibatkan fungsi hambatan menurun, sementara fungsi rangsangan yang dipengaruhi oleh dopamin tetap normal. Tetapi apa pun penyebabnya, pria yang mengalami ejakulasi dini tidak mampu mengontrol ejakulasinya. Akibatnya ejakulasi segera terjadi di luar kehendak.