JAKARTA – Asosiasi Negara Lingkar Samudera Hindia (IORA) sepakat menguatkan kerja sama dengan Pusat Pelatihan Kerja Sama Selatan-Selatan Gerakan Non-Blok (NAM SSCC) dalam sektor ekonomi hingga pemberdayaan wanita. Kesepakatan itu tertuang dalam nota kesepahaman atau MoU antara kedua organisasi internasional yang diteken di Kementerian Luar Negeri RI, Jakarta, Selasa (28/11/2017).

"Kami berharap MoU ini dapat menjadi tonggak untuk membahas sejumlah penguatan kerja sama dengan NAM, terutama di bidang ekonomi biru, pemberdayaan perempuan, pengembangan usaha kecil dan menengah (UMKM), tanggap bencana, serta isu perubahan iklim," kata Sekretaris Jenderal IORA, KV Bhagirath, seusai penandatanganan MoU.

Bhagirath menuturkan, pengembangan ekonomi biru menjadi prioritas IORA untuk mengoptimalkan perairan serta laut sebagai ujung tombak perkembangan ekonomi negara anggota. Sebab, sebagian besar wilayah negara IORA dikelilingi serta berbatasan dengan Samudera Hindia.

Dengan ditandatanganinya MoU itu, paparnya, pakar-pakar IORA serta NAM juga dapat melahirkan inovasi baru melalui bermacam penelitian yang bermanfaat untuk menguatkan kerja sama kedua organisasi internasional, terutama terkait beberapa isu teknis seperti perubahan iklim, energi terbarukan, sampai pengelolaan limbah laut yang sangat menentukan keberhasilan pengembangan ekonomi biru ke depannya di kawasan.

Lebih lanjut, Bhagirath mengharapkan perjanjian MoU ini dapat membawa Indonesia lebih dekat lagi dengan IORA. Sejauh ini, tuturnya, Indonesia menjadi salah satu negara yang aktif berperan dalam memperkuat kerja sama antara negara IORA dengan salah satunya berhasil menyelenggarakan Konferensi Tingkat Tinggi pertama IORA di Jakarta beberapa waktu lalu.

Sementara itu, Direktur NAM SSCC, Prianti Gagarin Singgih-Djatmiko mengatakan selain kerja sama penguatan ekonomi biru, upaya pemberdayaan wanita menjadi salah satu prioritas dalam MoU tersebut. Sebab, menurutnya, keberhasilan pengembangan ekonomi biru tak bisa lepas dari peran wanita di dalamya karena sebagian besar tenaga kerja di sektor perikanan maupun kelautan merupakan kaum perempuan.

Dengan memperkuat upaya pemberdayaan wanita, Ia berharap, juga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat di pesisir pantai dan desa-desa yang tentunya bisa ikut berdampak pada meningkatnya pertumbuhan ekonomi di suatu wilayah. "Pemberdayaan perempuan saat ini sudah menjadi pembahasan di berbagai forum baik regional maupun internasional. Karena itu kita perlu memperkuat isu ini yang berkaitan juga dengan tujuan kita yaitu memaksimalkan pengembangan ekonomi biru di kawasan," kata Prianti, mantan Duta Besar RI untuk Venezuela tersebut.