JAKARTA – Hampir seluruh lapisan masyarakat tak hanya di Indonesia tetapi juga di setiap negara dunia tidak asing dengan penyakit flu. Penyakit yang kebanyakan masyarakat ketahui karena penurunan kekebalan dalam tubuh ini terkadang dianggap remeh. Padahal flu yang disebabkan oleh virus influenza ini sangat beresiko tinggi.

Beberapa kasus bahkan menunjukan terjadi komplikasi lanjutan terkait virus influenza ini, seperti sinusitis, bronchitis dan penyakit lainnya. Tak hanya itu saja, seseorang yang memiliki riwayat beberapa penyakit seperti diabetes mellitus dan asthma bahkan bisa terjadi kekambuhan kembali.

Karena hal itu, Indonesia Influenza Foundation (IIF) bersama dengan Satgas Imunisasi Dewasa dan Sanofi Pasteur Indonesia mengadakan diskusi sekaligus pengenalan lebih lanjut apa itu influenza serta resiko seperti apa yang bisa ditimbulkan. Prof. Dr. Cissy B. Kartasasmita (IIF), Prof. Dr. dr. Samsuridjal Djauzi SpPDKAI (Satgas Imunisasi Dewasa) dan Joselito Sta. Ana (Sanofi Pasteur) yang berasal dari Filipina merupakan para ahli yang memang fokus menangani tentang influenza yang dipadu oleh moderator oleh Dr. dr. Sukamto Koesnoe, SpPD, K-AI

Seperti yang diungkapkan oleh Prof. Cissy bahwa usia anak-anak mulai usia 6 bulan hingga 5 tahun memiliki presentase paling tinggi terkena serangan virus influenza, namun pada usia remaja, lebih dari 65 tahun, ibu hamil hingga petugas kesehatan itu sendiri berisiko terkena virus influenza. Karena penyebaran virus influenza terbilang sangat cepat untuk, walau hanya dengan berjabat tangan saja. Bahkan untuk usia anak-anak ditemukan 1 kasus kematian setiap tahunnya. Hal ini diungkapkan beliau dalam diskusi terbuka mengenai influenza di Hotel Borobudur, Jakarta pada Jum’at (4/5/2018).

Sedangkan Prof. Samsuridjal Djauzi menjelaskan bahwa virus influenza ada beberapa type, yaitu type A yang ditemukan pada hewan jenis unggas yang merupakan tempat tinggal alamiah virus tersebut dan hewan mamalia, seperti kuda, babi, anjing laut, ikan paus dan mamalia lainnya bahkan bisa menginfeksi manusia. Untuk type B sendiri lebih banyak ditemukan pada manusia, beberapa kasus lainnya ditemukan pada anjing laut, namun tidak diadaptasi oleh hewan lainnya.

Untuk itu, Prof. Samsuridjal Djauzi melalui Satgas Imunisasi Dewasa mengajak masyarakat dengan memberikan informasi melalui media pentingnya sebuah imunisasi maupun vaksinisasi untuk pencegahan lebih lanjut akan resiko dari virus influenza.

Vaksin ini tidak hanya ditunjukan untuk usia anak-anak saja namun termasuk pada usia lanjut. Dimana pada usia dibawah 9 tahun dilakukan 2 kali vaksin dalam satu tahun. Setelah usia diatas usia 9 tahun hanya perlu 1 kali saja setiap tahunnya.

Prof. Samsuridjal Djauzi juga menambah untuk upaya efektivitas vaksin influenza pihaknya bersama pemerintah akan terus meningkatkan cakupan imunisasi, meningkatkan jumlah layanan, pemberian vaksin yang tepat dan peningkatkan untuk sumber-sumber pendanaan.

Saat ini vaksin terbaru yang ingin diperkenalkan ke masyarakat oleh Sanofi Pasteur yang merupakan perusahaan besar yang bergerak dalam bidang farmasi berupa vaksin 4 strain, yang dapat memberikan perlindungan lebih luas terhadap virus influenza yang beredar. Hal ini disampaikan langsung oleh Joselito Sta. Ana. yang merupakan General Manager Sanofi Indonesia dalam kesempatan yang sama pada Jum’at (4/5/2018). Harga yang ditawarkan untuk vaksin influenza ini sendiri menurutnya tidak terlalu mahal dan masih dapat dijangkau oleh semua kalangan masyarakat.

Kerjasama ketiganya untuk terus memerangi influenza dengan melakukan meningkatkan kegiatan imunisasi juga vaksinisasi akan membantu meningkatkan kesadaran dan kesehatan masyarakat Indonesia. Tentunya dengan bantuan dan peran dari pihak pemerintah juga didalamnya.