JAKARTA - Kementerian Komunikasi dan Informasi RI (Kemkominfo) membenarkan bahwa pihaknya telah memberikan beasiswa kepada Dwi Hartanto untuk berkuliah di Tenhnische Universiteit Delft di Belanda. Kepala Biro Humas Kemenkominfo, Noor Iza, Senin (9/10/2017) mengatakan Kemenkominfo telah memberikan beasiswa kepada Dwi Hartanto pada tahun 2007 untuk program S2 dan setiap tahun Kemenkominfo selalu memberikan beasiswa kepada mahasiswa.

Noor Iza menambahkan untuk memperoleh beasiswa tersebut, ada proses seleksi yang harus dijalani. "Bagi mahasiswa yang ingin memperoleh beasiswa di dalam maupun luar negeri, ada serangkaian proses seleksi yang harus mereka jalani terlebih dahulu."

Dwi Hartanto merupakan seorang mahasiswa yang mengenyam pendidikan tinggi di Belanda. Pemuda itu mengaku memiliki segudang prestasi di bidang aeronautika. Kabar prestasinya itu pun banyak dimuat di berbagai media di Tanah Air.

Februari 2017 lalu, Dwi mengaku telah menyelesaikan studi doktoralnya di TU-Delft bidang kedirgantaraan, dengan beasiswa dari pemerintah Belanda. Dwi bahkan mengaku pernah ikut kompetisi riset teknologi kedirgantaraan bergengsi di Jerman pada Juni 2017, yang diikuti oleh ESA (Eropa), NASA (AS), DLR (Jerman), ESTEC (Belanda), JAXA (Jepang), UKSA (Inggris), CSA (Kanada), KARI (Korea), AEB (Brazil), INTA (Spanyol), dan negara-negara maju lain.

Dwi mengaku berhasil memenangi kompetisi itu. Dwi mengklaim berhasil "mengalahkan" seluruh lawan dan sukses duduk di puncak podium tertinggi dalam bidang kategori riset Spacecraft Technology.

Ia memenangi kompetisi itu dengan mengusung riset yang berjudul "Lethal weapon in the sky" atau senjata yang mematikan di angkasa. Dwi juga mengaku, dari hasil riset tersebut, beberapa teknologi utama sudah berhasil ia patenkan bersama timnya.

"Sesuai dengan judul dalam risetnya, saya dan tim mengembangkan pesawat tempur modern yang disebut sebagai pesawat tempur generasi ke-6," ujar Dwi pada Juni 2017 lalu.

"Berawal dari keberhasilan saya dan tim, saat diminta untuk membantu mengembangkan pesawat tempur EuroTyphoon di Airbus Space and Defence menjadi EuroTyphoon NG (Next Generation/yang sekarang dalam tahap testing tahap akhir) yang mempunyai kemampuan tempur jauh lebih canggih dari generasi sebelumnya dari segi engine performance, kecepatan, aerodinamik, serta teknologi (avionik) tempurnya," lanjutnya menjelaskan segala kegemilangannya.

Namun, Dwi telah mengakui hal tersebut sebagai kebohongan belaka. Hal ini ia sampaikan dalam sebuah tulisan yang berjudul "Klarifikasi dan Permohonan Maaf" seperti dikutip dari situs resmi PPI Delft. "Melalui dokumen ini, saya bermaksud memberikan klarifikasi dan memohon maaf atas informasi-informasi yang tidak benar tersebut," ujar Dwi menguak kebohongannya.

Permohonan maaf sebanyak lima lembar yang diparaf oleh Dwi di atas materai itu juga mengklarifikasi seluruh pengakuan palsu dan sesumbar Dwi atas klaim prestasi yang telah ia sebutkan.