JAKARTA - Deputi Tumbuh Kembang Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Lenny Rosalin mengatakan jika pihaknya akan melakukan pengecekan terkait soal dua orang remaja SMP yang kebelet nikah di Sulawesi Selatan. Menurutnya, pernikahan yang terjadi dibawah usia 18 tahun harus dihentikan. "Kita lagi koordinasi dengan daerah, karena sedang kita cek dari pihak-pihak sekolah, keluarga, pemda provinsi, pemda kabupaten dan dari lingkungan mereka," ujarnya, Sabtu (14/4/2018).

Ia juga mengatakan jika pihaknya selalu siap untuk melakukan mediasu dengan pihak terkait dan keluarga kedua remaja tersebut. Ditambah, pihaknya juga saat ini memiliki program dengan tenaga profesional psikolog. "Kami selalu siap, karena kami punya PUSPAGA (Pusat Pembelajaran) yang dilengkapi dengan tenaga profesional psikolog," tutur dia.

Lenny juga menilai pernikahan dini dapat mengancam pendidikan, kesehatan serta ekonomi. Untuk itu, pernikahan di usia dini tersebut harus dihentikan. "Hak anak salah satunya adalah terpenuhi pendidikannya, minimal sampai lulus SMA. Perkawinan Anak (di bawah usia 18 tahun) harus dihentikan. Perkawinan anak minimal mengancam 3 hal, pendidikan anak akan drop out, sehingga wajib belajar 12 tahun tidak akan tercapai," jelasnya. "Kesehatan, risiko kematian ibu melahirkan dan risiko bayi BBLR, kurang gizi (karena gizi berebut dengan ibunya, yang masih juga usia anak yang juga perlu gizi untuk tumbuh kembangnya). Ekonomi, kalau mereka drop out kemudian bekerja maka muncul isu baru yaitu pekerja anak. Pekerjaan yang mereka peroleh pasti low skill dengan upah rendah. Akan menciptakan kemiskinan, daya beli jadi rendah. Ketiga hal tersebut sebagai faktor penghitung Indeks Pembangunan Manusia (IPM)," sambung dia.

Seperti diberitakan sebelumnya, kedua remaja yang masih duduk di bangku kelas II SMP ini ingin segera jalinan percintaannya dengan sang kekasih dihalalkan di hadapan penghulu. Kedua remaja yang belum diketahui identitasnya itu berusia 15 tahun dan 14 tahun. Saat mengajukan permohonan pernikahan kepada Kantor Urusan Agama Kecamatan Bantaeng, keduanya sempat ditolak karena alasan usia. Namun dengan bantuan keluarga, mereka mengajukan permohonan dispensasi ke Pengadilan Agama Bantaeng. Permohonan tersebut dikabulkan oleh pihak Pengadilan Agama Bantaeng. Hingga pihak KUA tak punya alasan lagi menolak pernikahan dini itu.