BREAKINGNEWS.CO.ID – Kelompok teroris yang berbasis di sekitar kepulauan Filipina bagian selatan, Abu Sayyaf, telah menyandera tida orang nelayan yang diantaranya dua berasal dari Indonesia dan satu dari Malaysia. Mereka juga membuat sebuah video yang berisi ancaman, yang kemudia beredar luas di media sosial beberapa waktu terakhir.

Tiga orang itu adalah dua warga Indonesia, Heri Ardiansyah berusia 19 tahun dan Hariadin berusia 45 tahun, serta Jari Abdulla berusia 24 tahun yang merupakan warga negara Malaysia. Ketiganya bekerja sebagai nelayan kapal pukat yang tengah berlabuh di Sandakan, Sabah, berdekatan dengan kawasan Kepulauan Tawi-tawi di Filipina.

Video tersebut menarik perhatian seorang aktivis Wakatobi, Dariono yang meminta pemerintah pusat secepatnya mengambil tindakan mediasi terkait penyanderaan itu. Ia mengungkapkan bahwa tayangan video itu menampilkan kedua sandera asal Indonesia yang mulutnya ditutup dengan lakban, juga kedua mata ditutup dan tubuh terikat kain hitam. Lima orang yang mengenakan seragam bersenjata lengkap tampak mengelilingi mereka.

"Saya adalah Warga Negara Indonesia, pekerjaan saya nelayan di Sabah, Sandakan. Saya kena tangkap oleh Abu Sayyaf di Laut Sandakan. Saya minta perhatian pemerintah Republik Indonesia, terutama Presiden dan Bapak Dadang yang mengurus," ujar seorang sandera dalam video.

Menanggapi video terkait, Kementerian Luar Negeri RI memberikan sejumlah konfirmasi pada Rabu (20/2/2019) malam. Mereka menyatakan sudah menerima laporan penculikan tersebut, dan sudah melakukan komunikasi dengan pihak keluarga sandera sambil terus melakukan upaya-upaya pembebasan.

"Kedua orang yang muncul di video adalah WNI asal Wakatobi, Sulawasi Tenggara, atas nama Hariadin dan Heri Ardiansyah. Keduanya diculik oleh kelompok bersenjata Filipina Selatan saat bekerja menangkap ikan di perairan Sandakan, Sabah, Malaysia pada 5 Desember 2018 lalu bersama dengan satu orang warga negara Malaysia," kata pihak Kemenlu dalam pesan yang diterima Breakingnews.co.id.

Kemenlu mengungkapkan, pihaknya terus berkomunikasi dengan keluarga kedua WNI di Wakatobi untuk menyampaikan perkembangan upaya pembebasan. "Kasus ini adalah penculikan ke-11 yang dilakukan terhadap WNI di perairan Sabah, Malaysia, oleh kelompok bersenjata di Filipina Selatan," ujarnya.

Terkait video yang beredar, disebutkan bahwa kelompok Abu Sayyaf selalu melakukan hal serupa untuk memberi tekanan. "Video seperti ini selalu disebarkan oleh penyandera dalam setiap kasus penyanderaan, untuk menekan keluarga," katanya.