BREAKINGNEWS.CO.ID- Ketua DPR RI, Bambang Soesatyo mendorong Kementerian Kesehatan (Kemenkes) untuk melakukan penyuluhan secara berkala kepada masyarakat, khususnya promotif dan preventif, mengenai penyakit kanker paru-paru. 
 
Hal tersebut dikatakan Bambang menyikapi kasus kanker paru-paru yang saat ini masih menjadi kanker paling mematikan di Indonesia, dari 30.023 jumlah pasien kanker paru-paru, sebanyak 26 ribu pasien meninggal pada tahun 2018. 
 
"Mengingat masih banyaknya masyarakat yang tidak mengetahui tentang gejala kanker paru-paru," ujar Bambang kepada wartawan di Jakarta, Kamis (6/12/2018). 
 
Selanjutnya Bambang mendorong masyarakat untuk tidak segan datang ke Fasilitas Kesehatan (Faskes), seperti ke Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas), guna memeriksakan diri agar mendapatkan fasilitas pengobatan secara gratis yang sudah disiapkan oleh Kemenkes. 
 
Bambang menambahkan, pihaknya mendorong keluarga pasien penderita kanker paru-paru untuk tetap memberikan dukungan dan berempati kepada pasien penderita kanker paru-paru, sehingga mental psikologi pasien tersebut tidak menanggung rasa kesedihan sendiri dan termotivasi untuk sembuh.
 
Selain itu Bambang mendorong Kemenkes untuk meningkatkan layanan kesehatan yang berkualitas untuk masyarakat umum, guna dapat menangani dan mencegah segala macam penyakit, khususnya kanker paru-paru sejak dini.
 
Menurut Ketua Cancer Information and Support Center (CISC) Aryanthi Baramuli Putri penyebab penyakit kanker paru-paru menjadi kanker yang paling mematikan karena memang tidak adanya gejala pada stadium awal.
 
Gejala justru muncul ketika kanker sudah mencapai stadium lanjut, antara lain, batuk berkepanjangan hingga mengeluarkan darah, kelelahan yang amat sangat, nyeri atau sesak napas di dada, hingga pembengkakan pada wajah dan leher.
 
"Harapan hidup pasien kanker paru-paru sangat rendah, yakni hanya 12% jika dibandingkan dengan jenis kanker lain. Deteksi dan penegakan diagnosis sejak dini sangat penting, terutama bagi orang-orang dengan risiko tinggi kanker paru-paru sehingga mereka bisa mendapat pengobatan yang tepat dan bermutu," katanya.
 
Berdasarkan data Globocan 2018, tingginya angka kematian kanker paru-paru karena kepedulian pasien dan deteksi dini yang rendah. Menurut dokter ahli paru dari Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto Alex Ginting pengobatan yang tertunda serta ketidakpatuhan pasien dalam menjalani pengobatan juga menjadi faktor penyebab tingginya tingkat kematian pasien kanker tersebut di Indonesia. Pengobatan tertunda umumnya karena ketidaktahuan terhadap gejala kanker paru-paru sehingga tidak ada deteksi dini.
 
Ia mengungkapkan, saat ini pengobatan kanker di dunia sudah sangat maju dan terus diperbarui melalui berbagai penelitian. Sayangnya, pemerintah belum bisa mengikuti perkembangan tersebut, bahkan pada era BPJS Kesehatan, menurutnya, pemerintah malah berjalan mundur.
 
"Karena ada beberapa obat yang tidak lagi ditanggung (oleh BPJS Kesehatan) dan tidak semua jenis obat yang ada di luar negeri tersedia di sini (Indonesia)," terangnya