BREAKINGNEWS.CO.ID – Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Perdagangan tidak ragu untuk melawan balik negara-negara  Eropa yang sengaja tanpa alasan jelas menolak produk sawit Indonesia masuk  kembali ke benua tersebut. Hal itu dilakukan tidak lain demi melindungi produk yang telah menyumbang sebagian besar devisa non migas untuk negara itu.

Enggar sapaan akrabnya mengatakan, dua skema bisa dilakukan untuk melawan ke­bijakan Uni Eropa. Pertama, melalui para diplomat dengan jalur diplomatik dan atase perda­gangan Indonesia. Kedua, mem­boikot masuknya produk negara asal Eropa ke Tanah Air.

Dia mengungkapkan, cara yang pertama sudah sering dilakukan. Sedangkan yang kedua, berhasil dilakukan kepada salah satu negara di Semenanjung Skandinavia yang menolak produk sawit Indonesia. “Sebenarnya sudah pernah kita lakukan. Beberapa waktu lalu Norwegia sempat menolak produk sawit Indonesia. Kita kemudian merespons dengan mengancam akan menghentikan impor ikan salmon dari mereka. Akhirnya Duta Besar mereka menemui saya dan sekarang produk sawit kita bisa masuk lagi ke negara mereka,” ungkap Enggar di Medan Sabtu (7/7/2018).

Politisi Nasdem ini tak segan melakukan hal serupa kepada negara lain yang mencoba menghalangi produk sawit Indonesia. “Ini akan kita berlakukan juga untuk (negara) yang lain. Kita pasti akan melawan,” tegasnya.

Enggar menjelaskan, kampanye hitam produk sawit Indo­nesia oleh Uni Eropa dilakukan setelah parlemen mereka mem­bentuk undang-undang energi yang melarang penggunaan komponen biofuel yang berasal dari minyak sawit. Hal itu karena minyak sawit dianggap menjadi penyebab kerusakan lingkungan.

Dituturkanny lagi, parlemen Uni Eropa menganggap produk sawit Indonesia sebagai produk dari hasil produksi yang menyebabkan deforestasi secara masif. Sehingga dianggap merusak lingkungan dan membuat iklim tidak seimbang. “Padahal kita sendiri terus berbenah untuk membuktikan bahwa itu tidak benar. Uni Eropa sebenarnya sudah mulai menerima, terbukti dari penundaan pemberlakuan undang-undang soal energi tiu, dari tahun 2021 menjadi tahun 2030,” katanya.

Menurut Enggar, alasan deforestasi yang dituduhkan Benua Biru tidak tepat. Sebab Uni Eropa pun memproduksi minyak nabati dari bunga matahari. “Tapi kita akan terus melawan. Karena kalau alasan mereka deforestasi, apa bedanya dengan (produksi) minyak nabati lain. Mereka juga diproduksi masif,” cetusnya.