BREAKINGNEWS.CO.ID- Ketua DPR RI, Bambang Soesatyo mendorong Kementerian Perdagangan (Kemendag) untuk mengkaji kembali keputusan penambahan impor gula dengan tujuan memenuhi kebutuhan konsumsi pada periode Januari hingga Mei 2019 sebanyak 1,1 juta ton. 
 
Hal tersebut dikatakan Bambang menyikapi data Badan Pusat Statistik (BPS) dan United States Department of Agriculture sampai Oktober 2018 terjadi meningkatnya impor gula sepanjang 2018 sebanyak 4,63 juta ton.
 
Selain itu rencana Kementerian Perdagangan (Kemendag) untuk melakukan tambahan impor gula sebanyak 1,1 juta ton pada Januari-Mei 2019. 
 
"Memintakan data pembanding kepada BPS sebagai pertimbangan untuk melakukan impor gula," ujar Bambang kepada wartawan di Jakarta, Rabu (16/1/2019). 
 
Bambang pun mendorong Pemerintah untuk menyerap hasil gula dari petani dalam negeri, sehingga secara psikologis petani tebu tetap merasa dilindungi oleh pemerintah dan memberikan motivasi petani tebu dalam menggarap lahannya. 
 
Selanjutnya Bambang mendorong Kementerian Perindustrian (Kemenperin) untuk melakukan revitalisasi industri gula dalam negeri, melalui perbaikan pabrik gula secara menyuluruh, dengan mengganti alat-alat produksi gula sesuai dengan kemajuan teknologi. 
 
"Sehingga terpenuhinya kualitas produksi gula dalam negeri untuk kebutuhan industri sesuai standar International Commision For Uniform Methods of Sugar Analysis (ICUMSA)," katanya. 
 
Selain itu Bambang mendorong Kementerian Keuangan (Kemenkeu) untuk mempermudah perizinan investasi, sehingga dapat mempermudah Kementan dalam memperoleh modal untuk mendirikan pabrik-pabrik gula.

 

Diketahui, Kementan menyatakan target produksi gula nasional tahun 2019 mencapai 2,5 juta ton. Angka tersebut naik 19% dibanding capaian produksi tahun lalu yang hanya 2,1 juta ton.
 
Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Bambang menyatakan alasan untuk tetap optimistis. "Ada tambahan beberapa produsen yang baru investasi, tetapi belum melakukan penggilingan," kata Bambang di Jakarta, Senin (14/1).
 
Ketiga perusahaan adalah PT Pratama Nusantara Sakti di Sumatera Selatan, PT Cakra Bombana Sejahtera di Sulawesi Tengah, serta PT Rejoso Manis Indo di Jawa Tengah. Menurut Bambang, ketiga perusahaan sudah memproduksi tebu tetapi belum memiliki gudang penggilingan.
 
Dia menjelaskan, terjadi penyusutan areal perkebunan tebu pada tahun 2019 menjadi 413 ribu hektare dari 425 ribu hektare pada tahun lalu. Namun, areal perkebunan baru dari ketiga perusahaan yang siap giling itu belum terdata karena masih menunggu pembangunan pabrik gula.
 
Bambang menjelaskan, potensi ketiga perusahaan cukup besar untuk memenuhi target hasil produksi sebanyak 2,5 juta ton. "Kami sudah hitung secara realistis kalau tambahan itu bisa mencapai target produksi," ujarnya.
 
Kementerian Pertanian juga terus mencoba untuk meningkatkan produksi pertanian dengan bantuan pendanaan swasta selain pemanfaatan anggaran negara. Salah satunya dengan meningkatkan rendemen atau rasio produksi dari tebu menjadi gula melalui revitalisasi pabrik.