BREAKINGNEWS.CO.ID - Capres nomor urut 01, Joko Widodo (Jokowi) terlihat 'garang' dalam menyikapi tuduhan miring yang selama ini dialamatkan terhadap dirinya. Kegarangan sang petahana itu pun menjadi sorotan dari berbagai kalangan.

Direktur Lingkar Madani (LIMA) Indonesia, Ray Rangkuti mengatakan aneh jika lawan politik Jokowi saat ini menilai terkait dengan model kampanye yang dilakukan oleh Jokowi. Terlebih, jika sampai mengatakan model kampanye seseorang tidak tepat.

"Tentu saja tepat atau tidak satu model kampanye tidak tergantung pada penilaian lawan politiknya. Tepat atau tidak satu model kampanye tergantung pada kebutuhan yang ada sebagai strategi yang akan diterapkan. Kalau sampai oposisi menilai model kampanye yang dilakukan oleh petahana sebagai tidak tepat justru hal itu menimbulkan pertanyaan," kata Ray kepada breakingnews.co.id saat dihubungi, Selasa (5/2/2019).

"Apakah itu berarti oposisi agak khawatir model kampanye menyerang pak Jokowi ini sedikit banyak akan berimplikasi terhadap elektabilitas sang penantang. Dengan seolah-olah menyebut pak Jokowi yang khawatir tapi sebenarnya yang terjadi justru kekhawatiran mereka model kampanye menyerang yang akan dilakukan oleh pak Jokowi akan dapat mengungkap berbagai kelemahan yang mungkin selama ini belum terungkap kapada publik," sambungnya.

Ray mencontohkan, seperti isu bantuan tim ahli dari pihak asing. Menurutnya, isu-isu seperti ini akan lebih bernilai jika disampaikan langsung oleh calon petahana.

"Sebut saja soal adanya bantuan Tim ahli dari orang asing untuk pemenangan Prabowo. Satu isu yang sudah lama beredar, tetapi akan lebih bernilai politik manakala diungkapkan oleh petahana. ini salah satu contoh isu yang boleh jadi akan dapat mengurai berbagai kelemahan dari penantang petahana," ujarnya.

"Tapi apakah kampanye menyerang ini akan efektif? Saya kira ini tahapan berikut dari strategi kampanye yang akan dilakukan oleh pak Jokowi. Setelah hampir 4 bulan bertahan dan efektif membuat suara tidak merosot, maka selanjutnya dalam rangka menambah daya tarik elektabilitas pola yang dipergunakan adalah kampanye menyerang," imbuhnya.

"Mari kita lihat apakah memang pola menyerang ini akan efektif menaikkan elektabilitas atau hanya akan membuat elektabilitas pak Jokowi tetap bertahan di tempat," pungkasnya.