BREAKINGNEWS.CO.ID- Praktisi Hukum, Mario Pranda mempertanyakan fungsi Electronic Traffic Law Enforcement (E-TLE) yang diterapkan di jalan-jalan protokol Jakarta.

Pasalnya kata Mario, maski sejumlah titik yang sudah memiliki kamera pengawas E-TLE, namun tetap saja masih ada aparat Kepolisian Lalu Lintas yang melakukan tindakan penilangan.

"Hal itu masih sering kita jumpai. Padahal tujuan dari tilang electronic dimaksud untuk membantu kerja aparat supaya lebih efisien. Karena pembuktian lebih valid atas pelanggaran para pengemudi," kata Mario kepada wartawan di Jakarta, Jumat (21/2/2020).

Selain kata Mario, sistem E-TLE tersebut menghindari praktik pungutan liar (pungli) oknum Polantas terhadap para pengendara demi tercapainya program Polri yang profesional, terpercaya dan modern (Promoter).

Mario pun meminta Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya mengevaluasi kebijakan tersebut. Apabila tindakan tersebut merupakan bentuk penyimpangan maka harus segera menindak oknum aparat yang nakal tersebut.

"Masyarakat harus tahu dan supaya tidak bingung. Apalagi semua program menggunakan uang negara. Harus segera evaluasi hal ini," tukasnya.

Inovasi ETLE adalah upaya Polda Metro Jaya menyambut revolusi industri 4.0 dan mendukung penguatan Polri yang profesional sesuai dengan program Kapolri yakni promoter.

ETLE di Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya adalah implementasi teknologi untuk mencatat pelanggaran-pelanggaran dalam berlalu lintas secara elektronik untuk mendukung keamanan, ketertiban, keselamatan dan ketertiban dalam berlalu lintas.

ETLE sudah mulai diujicobakan oleh Ditlantas Polda Metro Jaya sejak November 2018 di ruas Jalan Sudirman-Thamrin. Dalam tahap uji coba tersebut, kemampuan kamera CCTV dalam menangkap pelanggaran hanya sebatas pelanggaran marka jalan dan menerobos lampu merah.