BREAKINGNEWS.CO.ID - Masing-masing kubu pendukung pasangan capres-cawapres Pilpres 2019 semakin gencar, saling tanding banyak-banyakan dalam menggalang massa untuk mensukseskan kampanye terbuka (kampanye akbar). Lantas, apakah kampanye terbuka signifikan terhadap tingkat elektabilitas kandidat?

Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting, Pangi Syarwi mengatakan bahwa kampanye gaya usang atau lama ini sepertinya tidak akan efektif. Hal ini setidaknya didasarkan pada beberapa alasan.

"Dalam hasil survei Voxpol Center Research and Consulting juga menunjukan bentuk kegiatan kampanye yang disukai atau diinginkan pemilih paling dominan adalah dialog tatap muka atau interaktif dengan kandidat sebesar 51,6 persen," kata Pangi dalam keterangannya yang diterima breakingnews.co.id, Senin (8/4/2019).

Sementara itu, lanjut Pangi, model kampanye seperti rapat akbar atau kampanye terbuka dengan pengerahan massa hanya sebesar 10,8 persen. Karena kampanye terbuka tidak terlalu disukai pemilih maka cenderung di mobilisasi dan pengaruhnya juga tidak terlalu signifikan. Selain memang kampanye terbuka sebagai pertunjukan hiburan rakyat.

Adapun alasan itu, kata Pangi yakni pertama, hanya untuk gagah-gagahan atau show off force. Kampanye terbuka seringkali digunakan sebagai ajang gagah-gagahan dan unjuk kekuatan.

"Kedua, inefesiensi anggaran. Anggaran atau cost yang sangat besar yang dikeluarkan dalam model kampanye semacam ini dan kadang-kadang tidak punya korelasi positif dengan semakin luasnya dukungan politik yang diperoleh masing-masing kandidat.

"Ketiga, tidak memperluas basis segmen pemilih. Hadirnya massa dalam jumlah besar tidak menjadi jaminan bahwa kemenangan menjadi milik kandidat tertentu," ungkapnya.

"Mereka yang hadir sebagian besar sudah dipastikan akan mendukung kandidat yang bersangkutan. Sisanya mereka hanya ikut-ikutan dan yang pasti model kampanye semacam ini tidak akan menambah asupan elektoral yang signifikan terhadap kandidat," imbuh Pangi.

Selanjutnya, ilusi merasa menang. Efek psikologis hadirnya massa yang besar di sisi lain juga punya sisi negatif baik terhadap kandidat maupun pendukungnya. Mereka merasa dapat dukungan yag besar dan luas dari masyarakat sehingga 'perasaan' rasa-rasa akan memenangkan kompetisi semakin memuncak.

Padahal massa yang hadir jika kita bandingkan dengan jumlah persentase pemilih sangat lah sedikit dan belum seberapa dibandingkan yang hadir kampanye terbuka.

"Belum lagi, massa yang hadir dalam kampanye terbuka, orangnya 'itu-itu saja'. Kampanye terbuka paslon 01 mereka hadir, begitu kampanye 02 mereka juga hadir, dari massa yang sama, yang penting mereka happy bisa menikmati hiburan dan syukur-syukur dapat uang transportasi," tegasnya.

"Harus kita akui, kampanye terbuka sedikit  berdampak apabila dipancarkan via serangan udara media sosial dan media mainstream pasca acara di lapangannya apabila tim pasukan udaranya jago mengelola konten dan narasi," sambung Pangi.

Oleh karena itu, massa yang hadir dalam kampanye akbar bukan-lah jaminan, bukan- lah ukuran soal menang dan kalah. Namun memastikan mereka datang ke TPS jauh lebih penting dari pada sekedar berbangga diri dengan jumlah massa besar yang berkumpul di lapangan terbuka.