BREAKINGNEWS.CO.ID – Permohonan suaka seorang terpidana asal Malaysia, Sirul Azhar Umar, yang divonis mati karena terlibat dalam pembunuhan mantan model dan penerjemah asal Mongolia, Altantuya Shaariibuu, mendapat penolakan dari pemerintah Australia. Akan tetapi, mantan ajudan Perdana Menteri Najib Razak tersebut menyatakan siap pulang ke negaranya dan buka-bukaan terkait kasus Altantuya apabila hukuman matinya dibatalkan.

Seperti dilansir The Guardian, Rabu (20/2/2019), meskipun menolak permohonan suaka, Australia sampai saat ini masih memenjarakan Umar di lembaga pemasyarakatan dengan tingkat keamanan tinggi, Villawood, di pinggiran Kota Sydney. Penyebabnya yaitu Negeri Kanguru tidak bisa memulangkan mantan anggota pasukan khusus Malaysia tersebut karena masih menghadapi ancaman hukuman mati.

Australia baru mau memulangkan Umar apabila Malaysia membatalkan hukuman mati terhadapnya. Umar sudah tiga tahun ditahan di penjara dengan tingkat keamanan maksimum itu. Pengadilan Malaysia menjatuhkan vonis mati kepada Umar dan satu orang rekannya yang merupakan sesama anggota pasukan khusus pada 2006 lalu.

Umar kabur ke Australia ketika masih bebas sambil menunggu proses banding putusan pengadilan. Menurut pengakuannya dalam wawancara khusus dengan The Guardian pada 2018 lalu, Umar menyatakan dia tidak ikut membunuh Altantuya. Dirinya hanya mengatakan membantu menculik perempuan itu. Akan tetapi, ketika diminta mengungkap siapa yang memerintahkan menghabisi Altantuya dan juga motif pembunuhan, Umar enggan membeberkannya.

Umar menyatakan bersedia kembali dan buka-bukaan asalkan pemerintah Malaysia, yang saat ini dipimpin Perdana Menteri Mahathir Mohamad, mengampuninya. Sebab, dia merasa saat ini Malaysia menganggapnya seakan tahanan politik. Tahun lalu pemerintah Malaysia menyatakan bakal menghentikan hukuman mati dan seluruh vonis yang belum dilaksanakan.

Pembunuhan itu terjadi pada masa pemerintahan Najib Razak. Saat itu, Altantuya dipekerjakan sebagai penerjemah oleh orang dekat Najib, Razak Baginda. Keduanya juga merupakan pasangan kekasih. Altantuya disebut mengetahui perihal dugaan penggelembungan harga dalam kontrak pembelian dua kapal selam dari Prancis untuk Angkatan Laut Malaysia. Sebab, dia terlibat dalam proses perundingan. Setelah kontrak itu berakhir, Altantuya yang ketika itu sedang hamil diculik ketika keluar dari rumah Razak dan dibawa ke pinggiran Kuala Lumpur. Di sana Altantuya dihabisi dengan cara ditembak, lantas tubuhnya dihancurkan menggunakan bahan peledak khusus militer.